tartilybanjary.id
BerandaEkonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan Publik
Beranda/Finansial

Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp18.050 per Dolar AS, The Fed Tahan Suku Bunga Acuan

Wahyu SuryaniDiterbitkan 31 Jul 2026 - 02.33 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp18.050 per Dolar AS, The Fed Tahan Suku Bunga Acuan
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau dibuka mengalami pelemahan pada awal perdagangan hari Kamis, 30 Juli 2026. Pelemahan mata uang Garuda ini terjadi di tengah dinamika pasar keuangan global yang terus merespons berbagai kebijakan moneter internasional. Berdasarkan data yang dihimpun dari Refinitiv pada pembukaan pasar, mata uang rupiah terdepresiasi tipis sebesar 0,03 persen. Penurunan tersebut membawa posisi nilai tukar rupiah berada pada level Rp18.050 per dolar AS. Pergerakan awal ini menunjukkan adanya tekanan ringan yang kembali dialami oleh mata uang domestik setelah sempat menunjukkan performa positif pada sesi perdagangan sebelumnya.

tartilybanjary.id

Copyright 2026 tartilybanjary.id - All Rights Reserved.

Kategori

Ekonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan PublikEkonomiEkonomi Digital & Bisnis
Ekonomi
Ekonomi Digital & Bisnis
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global
Populer

Kondisi pelemahan pada hari Kamis ini berbanding terbalik dengan pencapaian nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Pada perdagangan yang berlangsung hari Rabu, 29 Juli 2026, nilai tukar rupiah berhasil ditutup dengan penguatan sebesar 0,06 persen. Pada akhir sesi tersebut, mata uang Garuda mampu bertengger di level Rp18.045 per dolar AS. Penguatan ini sebenarnya diraih setelah rupiah melewati fase fluktuasi yang cukup tajam, di mana pada saat pembukaan perdagangan hari Rabu, nilainya sempat tertekan dan menyentuh level Rp18.100 per dolar AS. Pergerakan fluktuatif ini mencerminkan tingginya sensitivitas pasar terhadap berbagai sentimen ekonomi yang sedang berkembang.

Sementara itu, dari sisi pergerakan mata uang global, indeks dolar AS atau yang sering disebut dengan DXY menunjukkan pergerakan yang cenderung tertahan. Indeks yang mengukur kekuatan greenback terhadap keranjang mata uang utama dunia tersebut terpantau bergerak cukup stabil. Pada pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS berada di posisi 100,880. Kestabilan posisi indeks dolar AS pada Kamis pagi ini terjadi setelah instrumen tersebut mengalami penurunan yang tajam pada sesi perdagangan sebelumnya. Tercatat, indeks dolar AS sempat merosot sebesar 0,52 persen, yang secara langsung memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk bernapas sejenak.

Baca Juga

IHSG Sesi I Dibuka Menguat ke Level 6.110 di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia

IHSG Sesi I Dibuka Menguat ke Level 6.110 di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia

Arah pergerakan nilai tukar rupiah dan indeks dolar AS ini sangat dipengaruhi oleh keputusan terbaru dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. Dalam pertemuan terbarunya, The Fed secara resmi memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Saat ini, tingkat suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat tersebut tetap dipertahankan pada rentang 3,50 persen hingga 3,75 persen. Menariknya, keputusan penahanan suku bunga ini tidak diambil melalui kesepakatan yang sepenuhnya bulat di dalam internal lembaga. Terdapat perbedaan pandangan yang cukup jelas, di mana tiga dari dua belas anggota Federal Open Market Committee (FOMC) menyatakan sikap yang berbeda. Ketiga anggota FOMC tersebut secara tegas menginginkan adanya langkah pengetatan moneter lanjutan berupa kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Keputusan mayoritas untuk menahan suku bunga acuan didasari oleh serangkaian penilaian makroekonomi yang dilakukan oleh The Fed. Bank sentral menilai bahwa tingkat suku bunga yang berlaku saat ini sudah berada pada posisi yang cukup tinggi. Level suku bunga di rentang 3,50 persen hingga 3,75 persen tersebut dianggap masih memiliki kemampuan yang memadai untuk menahan laju aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Selain itu, tingkat suku bunga ini juga dinilai efektif untuk terus menurunkan tekanan inflasi di Amerika Serikat. Terkait dengan kekhawatiran pasar mengenai inflasi, The Fed juga memberikan pandangannya mengenai dampak tarif impor. Bank sentral memperkirakan bahwa potensi kenaikan harga-harga barang yang diakibatkan oleh penerapan tarif impor pada akhirnya dapat mereda dengan sendirinya tanpa memerlukan intervensi moneter yang agresif.

Baca Juga

Revisi Kuota Produksi Batu Bara dan Nikel 2026, Dampak Signifikan bagi Bisnis Kontraktor Tambang

Revisi Kuota Produksi Batu Bara dan Nikel 2026, Dampak Signifikan bagi Bisnis Kontraktor Tambang

Dalam kesempatan yang sama, Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyampaikan pernyataan penting yang menjadi sorotan utama para pelaku pasar keuangan di seluruh dunia. Warsh secara resmi menegaskan bahwa bank sentral Amerika Serikat tidak akan lagi memberikan petunjuk masa depan atau forward guidance mengenai arah kebijakan suku bunga mereka. Kebijakan baru ini menandai perubahan pendekatan komunikasi The Fed kepada publik dan investor. Kevin Warsh menyatakan bahwa bagi pihak otoritas moneter, hal yang terpenting saat ini adalah mengamati secara langsung bagaimana pasar keuangan bereaksi terhadap berbagai perkembangan ekonomi yang terjadi. Pengamatan ini akan dilakukan secara natural tanpa adanya filter atau panduan awal dari bank sentral.

Meskipun The Fed memutuskan untuk menghentikan praktik pemberian forward guidance, Kevin Warsh memastikan bahwa bank sentral tidak akan lepas tangan terhadap kondisi perekonomian. Ia menegaskan bahwa The Fed akan tetap bersiaga penuh dan siap untuk bertindak kapan saja apabila situasi ekonomi memang memerlukannya. Tindakan ini akan difokuskan untuk mengembalikan tingkat inflasi Amerika Serikat menuju target sasaran ideal mereka, yakni di level 2 persen. Dinamika kebijakan moneter tanpa panduan arah yang pasti ini tentu menuntut para pelaku pasar, termasuk di Indonesia, untuk lebih cermat dalam menganalisis data ekonomi secara mandiri. Pergerakan rupiah yang kini berada di posisi Rp18.050 per dolar AS akan terus diuji oleh reaksi pasar terhadap data-data ekonomi global yang akan rilis di masa mendatang.

Ikuti tartilybanjary.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

RupiahDolar ASthe fedsuku bungaKevin WarshPasar Uang

Berita Terbaru Lainnya

Edukasi Batas Usia Pernikahan Kemenkum Sulbar, Upaya Mencegah Risiko Kemiskinan BaruStrategi Sistem Koperasi Kakao Jembrana dalam Menstabilkan Harga dan Menembus Pasar EksporIHSG Sesi I Dibuka Menguat ke Level 6.110 di Tengah Lonjakan Harga Minyak DuniaRevisi Kuota Produksi Batu Bara dan Nikel 2026, Dampak Signifikan bagi Bisnis Kontraktor TambangPenemuan Jenazah Bayi di Klinik Amalia Pondok Aren dan Penangkapan PelakuPelajaran Tata Kelola Bisnis dan Mitigasi Risiko dari Kasus Korupsi Asuransi JasindoPenyelidikan Kasus TPPU Febrie Adriansyah, Kejagung Periksa Tujuh Perusahaan dan Puluhan SaksiIstana Respons Putusan MK Terkait Pemisahan Anggaran Makan Bergizi Gratis dari Dana Pendidikan

Paling Banyak Dibaca

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

Finance

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

30 Jul 2026

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

Ekonomi Digital

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

30 Jul 2026

Dampak Kebijakan Pengetatan Impor Gula Rafinasi terhadap Ekonomi Petani Tebu

Ekonomi & Bisnis

Dampak Kebijakan Pengetatan Impor Gula Rafinasi terhadap Ekonomi Petani Tebu

30 Jul 2026

Cara Mengenali Ancaman TPPO di Ekosistem Digital Saat Mencari Peluang Kerja

Keamanan Digital

Cara Mengenali Ancaman TPPO di Ekosistem Digital Saat Mencari Peluang Kerja

30 Jul 2026

Panduan Bayar Tiket MRT Jakarta dengan Kartu Kredit Nirsentuh Mandiri

Keuangan Digital

Panduan Bayar Tiket MRT Jakarta dengan Kartu Kredit Nirsentuh Mandiri

30 Jul 2026

Edukasi Batas Usia Pernikahan Kemenkum Sulbar, Upaya Mencegah Risiko Kemiskinan Baru

Regulasi Ekonomi

Edukasi Batas Usia Pernikahan Kemenkum Sulbar, Upaya Mencegah Risiko Kemiskinan Baru

31 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026Finance 路 30 Jul 2026
  2. 2Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027Ekonomi Digital 路 30 Jul 2026
  3. 3Dampak Kebijakan Pengetatan Impor Gula Rafinasi terhadap Ekonomi Petani TebuEkonomi & Bisnis 路 30 Jul 2026
  4. 4Cara Mengenali Ancaman TPPO di Ekosistem Digital Saat Mencari Peluang KerjaKeamanan Digital 路 30 Jul 2026
  5. 5Panduan Bayar Tiket MRT Jakarta dengan Kartu Kredit Nirsentuh MandiriKeuangan Digital 路 30 Jul 2026
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap