Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu sebaran abu vulkanik yang menyelimuti sejumlah wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat pada Minggu (6/9/2026). Partikel abu halus mulai terpantau menempel di permukaan jalan dan ruang publik Ibu Kota sejak pagi hari, sehingga mendorong otoritas terkait mengambil langkah pencegahan langsung di lapangan.
Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pukul 04.00 WIB, sebaran abu vulkanik terbagi ke dalam dua klaster utama. Klaster pertama bergerak ke arah timur laut hingga selatan pada ketinggian mencapai 20.000 kaki, mencakup area perairan di sekitarnya serta daratan DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Sementara itu, klaster kedua membubung hingga ketinggian 50.000 kaki ke arah barat daya sampai barat laut, meliputi perairan Samudra Hindia, Selat Sunda bagian selatan, Banten, Lampung, dan Bengkulu.
Penutupan Lebih Awal CFD dan Pembagian Masker
Dampak sebaran abu mulai dirasakan warga sejak pagi, salah satunya di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, ketika endapan debu tipis mulai terlihat di aspal sekitar pukul 07.00 WIB. Situasi tersebut berdampak langsung pada pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD).
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Dinas Perhubungan DKI Jakarta memutuskan menghentikan kegiatan CFD di koridor Sudirman-Thamrin lebih cepat, yakni sekitar pukul 09.00 WIB dari jadwal normal pukul 10.00 WIB. Pengawas HBKB Sudirman-Thamrin Erwansyah menjelaskan bahwa penghentian mendadak ini merujuk pada ketentuan force majeure dalam Peraturan Gubernur Nomor 12, yang memungkinkan penyesuaian hingga peniadaan kegiatan saat terjadi kondisi darurat.
Langkah penutupan serupa juga diberlakukan pada pelaksanaan CFD di ruas Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Untuk meminimalkan risiko gangguan pernapasan bagi masyarakat yang masih berada di luar ruang, petugas Dinas Perhubungan bersama kepolisian menyisir lokasi sembari membagikan masker secara cuma-cuma.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Imbauan Kesehatan dan Modifikasi Cuaca
Menanggapi kualitas udara yang terpapar abu letusan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi mengimbau warga membatasi paparan abu vulkanik. Perhatian khusus ditekankan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. Warga yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan disarankan memakai masker berstandar N95 atau masker setara dengan posisi menutupi hidung dan mulut secara rapat. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung turut mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, menjaga ketenangan, serta menerapkan protokol 5M di wilayah yang terdampak.
Sebagai langkah penanganan lanjutan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan operasi modifikasi cuaca yang diagendakan berjalan hingga malam hari di wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyatakan operasi tersebut difokuskan untuk memicu turunnya hujan agar material abu vulkanik di udara luruh. Apabila bibit awan hujan tidak memadai, tim penanggulangan bencana akan mengoptimalkan metode semprotan kabut air (water mist) guna menekan pekatnya debu di atmosfer.






