Pemandangan gedung pencakar langit dan kawasan komersial di Singapura tampak buram tertutup kabut tebal. Penampakan terkini Singapura masih penuh kabut asap dari karhutla RI pada Selasa (15/9/2026), termasuk di sekitar pusat perbelanjaan Orchard Road, akibat kiriman asap lintas batas dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Berdasarkan data perusahaan pemantau kualitas udara asal Swiss, IQAir, Indeks Kualitas Udara (AQI) Singapura menyentuh angka 181 pada pukul 10.00 waktu setempat (02.00 GMT). Angka ini menempatkan kualitas udara negara tersebut dalam kategori tidak sehat.
Kondisi ini dipicu oleh hembusan angin yang membawa asap dari kebakaran hutan dan lahan gambut di wilayah Sumatra menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura. Titik api di kawasan hutan dan lahan gambut Indonesia memicu lonjakan emisi berbahaya, dengan dampak terparah berpusat di sejumlah provinsi di Pulau Sumatra dan Kalimantan.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Dampak Terhadap Aktivitas Warga dan Cuaca Ekstrem
Penurunan jarak pandang akibat kabut asap mulai memengaruhi rutinitas harian warga di Singapura. Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan dan menggunakan transportasi umum mulai kembali mengenakan masker pelindung guna mengurangi risiko paparan udara kotor.
Musim kebakaran hutan dan lahan tahun ini tercatat menjadi yang terparah dalam 11 tahun terakhir. Fenomena cuaca super-El Ni帽o yang memicu lonjakan suhu ekstrem dan kekeringan berkepanjangan mempercepat penyebaran titik api di berbagai wilayah gambut.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Selain berdampak pada penurunan kualitas udara regional di Asia Tenggara, emisi yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia ini dilaporkan menyumbang sepertiga dari total emisi global.






