Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) telah sukses melaksanakan program penguatan kapasitas usaha bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah Depok. Program kemitraan ini secara khusus menyasar UMKM pangan lokal bernama Papandra yang berlokasi di Kelurahan Limo, Kota Depok. Melalui pendampingan yang intensif, tim akademisi membantu mitra menyusun strategi diversifikasi produk yang didukung oleh pengelolaan keuangan berbasis data yang lebih terukur.
Langkah pembinaan ini diambil untuk mengatasi berbagai kendala operasional yang selama ini dihadapi oleh pengelola Papandra, Marni Dewi Yanti. Sebagai produsen makanan ringan berupa kue garpu atau kue siput, Papandra sebelumnya menghadapi tantangan klasik dalam pengelolaan usaha harian. Beberapa persoalan mendasar yang teridentifikasi meliputi pencatatan transaksi keuangan yang belum rutin serta ketiadaan laporan keuangan sederhana. Kelemahan administrasi ini berimbas pada belum adanya perencanaan arus kas yang rapi di tingkat internal usaha.
Dampak dari minimnya catatan keuangan tersebut membuat penentuan harga pokok produksi serta penetapan harga jual produk selama ini hanya didasarkan pada perkiraan semata. Kondisi ini dinilai berisiko bagi kelangsungan usaha karena margin keuntungan yang diperoleh menjadi tidak pasti. Selain itu, ketergantungan yang tinggi pada satu jenis produk utama membuat pendapatan usaha rentan berfluktuasi. Oleh karena itu, diversifikasi produk menjadi kebutuhan mendesak untuk memperluas sumber pemasukan bagi pelaku usaha di Kelurahan Limo ini.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, tim pengabdian masyarakat UPNVJ yang dipimpin oleh Sufyati HS bersama Tri Siswantini dan Tati Handayani menjalankan program bertajuk “Penguatan Manajemen Keuangan Berbasis Data dan Diversifikasi Produk untuk Meningkatkan Keberlanjutan UMKM Pangan Lokal Papandra”. Rangkaian kegiatan pengabdian ini diawali dengan pelaksanaan survei lapangan pada tanggal 13 Mei 2026. Setelah pemetaan masalah selesai dilakukan, tim melanjutkan program dengan memberikan pelatihan serta pendampingan langsung yang berlangsung sepanjang bulan Juni hingga Juli 2026.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Sufyati HS menjelaskan bahwa pengelolaan usaha yang berbasis data merupakan fondasi mutlak dalam merumuskan strategi pengembangan bisnis yang berkelanjutan. Tanpa data keuangan yang valid, setiap keputusan ekspansi atau diversifikasi akan sulit diukur keberhasilannya. Selama masa pelatihan, mitra diberikan materi komprehensif yang mencakup teknik pencatatan transaksi harian, penyusunan laporan laba rugi, serta pembuatan laporan arus kas. Pelaku usaha juga dibimbing dalam menyusun perencanaan cash flow, menghitung harga pokok produksi secara riil, menentukan harga jual berbasis biaya, hingga menyusun strategi diversifikasi produk berdasarkan analisis biaya dan potensi pasar yang ada.
Dalam pelaksanaannya, sistem pengelolaan keuangan yang diperkenalkan kepada Papandra sengaja dirancang secara sederhana. Menurut Tri Siswantini, penyederhanaan sistem ini sangat penting agar pelaku usaha dapat mengaplikasikannya secara konsisten dan berkelanjutan secara mandiri setelah program pendampingan berakhir. Untuk menunjang efisiensi kerja operasional sehari-hari, tim Program Kemitraan Masyarakat juga menerapkan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas produksi mitra di lapangan.
Terkait dengan pengembangan variasi produk, Tati Handayani menekankan pentingnya perencanaan yang matang dalam melakukan diversifikasi. Diversifikasi tidak boleh dilakukan secara asal-asalan, melainkan harus dipersiapkan dengan baik agar mampu memberikan nilai tambah yang nyata bagi keberlangsungan bisnis. Dengan perhitungan biaya produksi yang matang, produk baru yang dihasilkan nantinya tidak akan membebani keuangan usaha, melainkan menjadi mesin pendapatan baru yang menguntungkan.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Hasil evaluasi yang dilakukan setelah program pendampingan selesai menunjukkan pencapaian yang sangat positif dan signifikan. Tingkat pemahaman dan keterampilan mitra mengalami lonjakan yang cukup drastis dibandingkan sebelum program dimulai. Data evaluasi mencatat bahwa rata-rata pengetahuan peserta mengenai manajemen keuangan dan diversifikasi melonjak dari yang semula hanya 27,2 persen menjadi 89,2 persen. Sementara itu, aspek keterampilan praktis peserta juga mengalami kenaikan dari 20,8 persen menjadi 86,2 persen.
Peningkatan kapasitas yang dialami oleh pengelola UMKM Papandra ini secara meyakinkan telah melampaui target indikator kinerja yang ditetapkan oleh tim pengabdian. Program kemitraan ini awalnya menargetkan peningkatan kapasitas minimal sebesar 60 persen. Dengan hasil akhir yang melampaui batas minimal tersebut, program ini diharapkan dapat menjadi model percontohan bagi pembinaan UMKM sejenis di Kota Depok dalam memanfaatkan data keuangan sebagai instrumen pengambilan keputusan bisnis.






