Penipisan pasokan amunisi penting, termasuk pencegat untuk bertahan dari serangan rudal dan drone Iran, kini membuat para mitra Washington di kawasan Timur Tengah mulai mempertanyakan efektivitas ikatan pertahanan mereka. Situasi tersebut memicu keraguan mendalam mengenai keandalan serta cakupan payung keamanan yang selama ini ditawarkan oleh Amerika Serikat. Pergeseran persepsi keamanan di Timur Tengah ini pada akhirnya memberikan ruang yang lebih luas bagi kekuatan regional lainnya untuk memperkuat posisi strategis mereka.
Menurut analisis yang disampaikan oleh CEO Gulf State Analytics, Giorgio Cafiero, para mitra Teluk Washington saat ini memiliki tekad yang kuat untuk mendiversifikasi hubungan internasional mereka. Negara-negara di kawasan tersebut mulai mengambil langkah nyata dengan memperdalam kerja sama dengan China serta kekuatan global lainnya. Pertumbuhan pengaruh China yang kian meluas dengan mengorbankan keutamaan atau dominasi Amerika Serikat dinilai sangat selaras dengan kepentingan geopolitik jangka panjang Iran di kawasan tersebut.
Dalam kurun waktu enam bulan terakhir, Iran dilaporkan secara aktif memanfaatkan berbagai konflik yang terjadi untuk mengejar serta menegakkan tujuan perangnya sendiri di Timur Tengah. Eskalasi konflik ini terlihat semakin jelas pasca serangan yang dilancarkan oleh kelompok milisi Palestina, Hamas, terhadap Israel pada Oktober 2023. Peristiwa tersebut segera memicu pergerakan cepat dari koalisi Poros Perlawanan yang dipimpin Iran, di mana kelompok Hizbullah Lebanon, Houthi Yaman, serta beberapa kelompok milisi di Irak segera bergabung dalam pusaran konflik tersebut.
Anggota dari kelompok koalisi tersebut kini terus membuka front baru guna meningkatkan tekanan terhadap para musuh mereka. Salah satu aksi terbaru ditunjukkan oleh kelompok Houthi yang membuka front baru terhadap Arab Saudi. Menghadapi ancaman yang datang dari berbagai front ini, Arab Saudi kian condong ke arah kuartet informal kekuatan Muslim di kawasan. Pada September lalu, Arab Saudi secara resmi menandatangani pakta pertahanan dengan tiga negara lainnya, yaitu Mesir, Turki, dan Pakistan.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Di sisi lain, Uni Emirat Arab justru memilih jalur diplomasi yang berbeda dengan mengejar kerja sama yang jauh lebih erat dengan Israel, sejalan dengan kerangka Perjanjian Abraham. Selain itu, Uni Emirat Arab juga aktif menjalin penyelarasan strategis dengan negara-negara lain seperti India, Yunani, dan Siprus. Perbedaan arah kebijakan luar negeri ini pada akhirnya memicu perselisihan yang cukup tajam antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dua negara tetangga yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk, khususnya terkait dengan konflik yang sedang berlangsung di Libya, Sudan, dan Yaman.
Di tengah ketidakstabilan geopolitik yang melanda kawasan, Iran tidak hanya mengandalkan kekuatan militer langsung. Sebaliknya, sepanjang perang berlangsung, Iran telah memanfaatkan alat yang bahkan lebih kuat, yaitu pengaruh besar mereka atas Selat Hormuz. Selat ini merupakan koridor perdagangan minyak dan gas yang sangat krusial bagi pasokan energi global. Menurut Javad Heirannia, Direktur Studi Teluk Persia di Center for Scientific Research and Middle East Strategic Studies di Teheran, tujuan terpenting Iran saat ini adalah mengubah pencapaian militer dan tekanan perang mereka menjadi keuntungan permanen yang diakui secara strategis, yaitu kendali penuh atas Selat Hormuz.
Upaya mengamankan kendali atas Selat Hormuz ini bukan tanpa alasan geopolitik yang kuat. Pengaruh yang kuat di selat tersebut dapat berfungsi sebagai nilai tawar atau posisi tawar yang signifikan bagi Iran terkait dengan masalah nuklir mereka. Di sisi lain, Republik Islam Iran secara konsisten selalu membantah segala tuduhan yang menyebutkan bahwa mereka sedang berusaha untuk memproduksi senjata pemusnah massal.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Selain aspek pertahanan dan nilai tawar nuklir, koridor perdagangan ini juga memiliki dimensi ekonomi yang penting bagi negara-negara di sekitarnya. Oman diketahui telah berupaya untuk menetapkan sistem biaya layanan yang nantinya akan dikumpulkan oleh kedua negara yang terletak di sepanjang koridor perdagangan minyak dan gas yang krusial tersebut. Langkah ini mencerminkan betapa pentingnya pengelolaan Selat Hormuz dalam peta ekonomi dan logistik energi internasional.
Secara keseluruhan, dinamika yang terjadi di Timur Tengah saat ini memperlihatkan pergeseran peta kekuatan yang signifikan. Mulai dari berkurangnya kepercayaan terhadap payung keamanan Amerika Serikat, diversifikasi hubungan para mitra Teluk dengan China, hingga perpecahan sikap antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dalam konflik regional. Dengan memanfaatkan pengaruh strategisnya atas Selat Hormuz serta mengoptimalkan jaringan koalisi Poros Perlawanan, Iran terus berupaya mengamankan kepentingan geopolitik jangka panjangnya di kawasan tersebut.






