Pengumuman hasil peninjauan indeks atau rebalancing MSCI periode Agustus 2026 yang dirilis secara resmi oleh Morgan Stanley Capital International pada Kamis, 13 Agustus 2026, menjadi perhatian utama para pelaku pasar modal di tanah air. Pengumuman ini membawa sejumlah penyesuaian pada daftar emiten Indonesia yang terdaftar dalam indeks internasional tersebut. Para investor disarankan untuk memeriksa kembali susunan portofolio saham masing-masing, khususnya yang memuat emiten-emiten yang mengalami perubahan status dalam keanggotaan indeks MSCI, serta mencermati penyesuaian yang ada sebelum tanggal efektif penyesuaian diberlakukan.
Pada kategori utama, yakni MSCI Global Standard Indexes, hasil peninjauan untuk periode Agustus 2026 menunjukkan tidak ada saham Indonesia yang ditambahkan ke dalam indeks tersebut. Sebaliknya, terdapat dua perusahaan tercatat yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes. Kedua emiten yang tereliminasi dari indeks standar global tersebut adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk dengan kode saham GOTO dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk dengan kode saham CPIN. Pengeluaran dua emiten ini menandai penyesuaian posisi saham-saham papan atas Indonesia di mata penyusun indeks global MSCI.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Perubahan yang terbilang cukup signifikan juga berlangsung pada kategori MSCI Global Small Cap Indexes. Dalam peninjauan Agustus 2026, MSCI hanya menambahkan satu saham asal Indonesia ke dalam indeks berkapitalisasi kecil ini. Namun di saat yang sama, MSCI memutuskan untuk menghapus sembilan saham Indonesia dari MSCI Global Small Cap Indexes. Daftar sembilan emiten yang dikeluarkan meliputi PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT MD Entertainment Tbk (FILM), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI). Pengurangan sembilan emiten yang hanya diimbangi satu penambahan tersebut membuat perubahan bersih pada segmen Small Cap Indonesia tercatat minus delapan konstituen.
Menanggapi dinamika penyesuaian indeks internasional tersebut, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, turut memberikan penjelasan resmi. Jeffrey Hendrik menyatakan bahwa dalam proses evaluasi dan penentuan konstituennya, MSCI memanfaatkan keterbukaan informasi publik yang disampaikan oleh BEI. Beberapa bentuk keterbukaan informasi publik yang digunakan oleh MSCI mencakup data High Shareholder Concentration (HSC) serta data kepemilikan saham 1 persen. Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa hasil rebalancing periode Agustus 2026 ini mencerminkan penyesuaian terhadap transparansi BEI yang memang tengah dilaksanakan secara intensif sejak awal tahun.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Peningkatan transparansi dan pengungkapan data publik ini pada dasarnya merupakan bagian dari inisiatif transformasi reformasi pasar modal yang tengah dijalankan secara bersinergi oleh pemerintah Indonesia bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO). Berdasarkan jadwal yang ditetapkan, seluruh penyesuaian serta perubahan konstituen dalam indeks MSCI ini bakal diterapkan setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026. Perubahan tersebut secara resmi akan berlaku efektif mulai 1 September 2026, sehingga para investor dan manajer investasi memiliki waktu untuk mengantisipasi transisi tersebut secara cermat.






