Peristiwa terbaliknya Kapal Virgo Transport 8 menyisakan cerita kritis bagi para penumpangnya. Salah seorang korban selamat, Ahmad Saudi, mengungkapkan detik-detik saat kapal mulai kehilangan keseimbangan hingga akhirnya terbalik tanpa adanya peringatan dini dari pihak kapal.
Ahmad menuturkan bahwa sirine atau alarm tanda bahaya sama sekali tidak berbunyi ketika kondisi kapal mulai miring. Selain ketiadaan sinyal darurat, petugas kapal juga tidak memberikan informasi ataupun instruksi evakuasi kepada para penumpang terkait situasi darurat yang sedang berlangsung.
Menyadari Bahaya dari Kepanikan Sesama Penumpang
Ahmad mengaku baru mengetahui adanya ancaman fatal tersebut saat terbangun dari tidurnya. Ia terjaga lantaran mendengar suara gaduh dari langkah kaki penumpang lain yang berlarian di dalam kapal.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Saat itulah, seorang rekan sesama penumpang memberi tahunya bahwa posisi kapal sudah dalam keadaan miring dan tidak stabil. Tanpa arahan awak kapal, para penumpang harus mengandalkan inisiatif sendiri untuk membaca situasi dan mencari jalur penyelamatan.
Perjuangan Keluar dari Badan Kapal
Melihat kondisi kapal yang semakin condong dan mulai terbalik, Ahmad berusaha mempertahankan posisi dengan berpegangan kuat pada sebuah tiang. Ia bergerak mengikuti arah kemiringan kapal guna mencari celah untuk keluar dari lambung kapal sebelum terperangkap di dalamnya.
Dalam situasi yang serba cepat dan mencekam, Ahmad memutuskan untuk tidak memikirkan barang bawaan. Ia meninggalkan tas serta telepon genggamnya di dalam kapal, dan hanya menyelamatkan diri dengan pakaian yang melekat serta dompet di saku celananya.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Evakuasi Menggunakan Perahu Karet
Titik terang penyelamatan muncul ketika sebuah perahu karet darurat berwarna oranye berhasil keluar dari badan kapal. Perahu karet penyelamat tersebut memiliki daya tampung maksimal untuk 15 orang.
Ahmad bersama 14 penumpang lainnya鈥攜ang seluruhnya merupakan laki-laki鈥攕egera menaiki perahu karet tersebut sesuai batas kapasitas demi bertahan hidup di atas perairan dan menunggu proses pertolongan lebih lanjut.






