Kinerja keuangan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI pada paruh pertama tahun ini menunjukkan dinamika yang berlawanan arah antara pendapatan dan keuntungan. Berdasarkan data per 30 Juni 2026, KAI mencatatkan penurunan laba pada semester I-2026, meskipun pada periode yang sama pendapatan perseroan sebenarnya mampu tumbuh secara positif. Situasi keuangan ini memberikan gambaran mengenai bagaimana beban di luar operasional utama dapat memengaruhi hasil akhir atau laba bersih sebuah perusahaan badan usaha milik negara.
Dari sisi operasional dan pendapatan, kinerja KAI tercatat mengalami peningkatan yang cukup solid. Hingga tanggal 30 Juni 2026, KAI berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 17,96 triliun. Angka pendapatan tersebut mengalami kenaikan sebesar 6,6 persen apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yang saat itu tercatat sebesar Rp 16,85 triliun. Sejalan dengan kenaikan pendapatan tersebut, laba bruto perseroan juga mengalami peningkatan dari angka Rp 5,72 triliun menjadi Rp 6,79 triliun. Peningkatan ini juga tecermin pada laba usaha perseroan yang tumbuh secara signifikan sebesar 25,8 persen, yakni menjadi Rp 4,66 triliun dari pencapaian sebelumnya yang berada di angka Rp 3,71 triliun pada periode sebelumnya.
Meskipun operasional inti mencatatkan pertumbuhan yang sangat baik, hasil yang berbeda terlihat pada pos laba sebelum pajak dan laba bersih. Laba sebelum pajak perseroan tercatat mengalami penurunan dari sebelumnya Rp 1,86 triliun menjadi hanya sebesar Rp 842,69 miliar. Penurunan ini berlanjut pada laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada perseroan, yang merosot drastis hingga 73,5 persen. Pada semester I-2025, laba bersih KAI masih berada di posisi Rp 1,18 triliun. Namun, pada laporan keuangan semester I-2026, angka tersebut turun menjadi hanya Rp 314,03 miliar. Penurunan laba bersih yang sangat tajam ini bersumber dari pos-pos di luar pendapatan operasional utama perseroan.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Faktor utama yang menjadi penyebab turunnya laba bersih KAI bersumber dari pos Bagian Rugi Bersih Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama. Beban pada pos keuangan ini melonjak tajam menjadi minus Rp 2,99 triliun pada semester I-2026, dari yang sebelumnya tercatat minus Rp 948,2 miliar pada semester I-2025. Sumber utama dari kerugian tersebut berasal dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia atau PSBI. KAI tercatat memiliki porsi kepemilikan saham sebesar 58,53 persen di dalam entitas ventura bersama tersebut. PSBI sendiri merupakan kendaraan investasi bagi konsorsium BUMN yang menjadi pemegang saham mayoritas di PT Kereta Cepat Indonesia China atau KCIC. KCIC adalah perusahaan yang bertindak sebagai operator layanan kereta cepat Jakarta-Bandung yang dikenal dengan nama Whoosh.
Kondisi pembukuan PSBI pada periode berjalan menunjukkan adanya tekanan dari sisi liabilitas dan kerugian. PSBI mencatatkan rugi neto sebesar Rp 5,13 triliun untuk periode berjalan. Dari sisi neraca, PSBI memiliki total aset senilai Rp 21,53 triliun, sementara total liabilitasnya tercatat lebih besar, yakni mencapai angka Rp 21,55 triliun. Karena KAI memiliki 58,53 persen saham di PSBI, bagian rugi neto yang harus ditanggung oleh KAI dari investasinya tersebut mencapai Rp 3,005 triliun pada semester I-2026. Angka beban kerugian ini mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang tercatat sebesar Rp 2,92 triliun.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Rugi neto yang dialami entitas asosiasi ini berdampak langsung pada nilai investasi perseroan secara keseluruhan. Nilai tercatat atau carrying value dari investasi KAI di dalam tubuh PSBI mengalami penyusutan secara signifikan. Pada akhir tahun 2025, nilai tercatat investasi tersebut masih berada di angka Rp 4,79 triliun, namun kemudian turun menjadi tersisa Rp 1,79 triliun per tanggal 30 Juni 2026. Selain pencatatan kerugian investasi, KAI juga turut memberikan pendanaan secara tidak langsung kepada KCIC. Pendanaan ini disalurkan melalui skema pinjaman pemegang saham atau shareholder loan yang diberikan kepada PSBI. Berdasarkan data hingga akhir Juni 2026, total pinjaman yang telah dicairkan oleh KAI kepada PSBI telah mencapai lebih dari Rp 1,72 triliun.






