Evakuasi seekor ular kobra di Desa Sroyo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah pada Selasa, 4 Agustus 206 menjadi sorotan publik setelah satwa tersebut kedapatan menelan sebilah pisau dapur. Ular berbisa tersebut ditemukan masih dalam kondisi hidup saat dievakuasi oleh relawan dari organisasi Exalos Indonesia dari rumah salah satu warga setempat. Peristiwa tidak biasa ini menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat mengenai alasan logis di balik tindakan sang ular kobra yang nekat menelan benda tajam berbahaya tersebut.
Bagaimana kronologi ular kobra tersebut bisa sampai menelan sebilah pisau dapur?
Menurut penjelasan ilmiah dari Donan Satria Yudha, S.Si., M.Sc, seorang dosen sekaligus pemerhati satwa liar dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), peristiwa tidak biasa ini terjadi karena ular kobra mengalami salah identifikasi terhadap objek yang ditemukannya. Ular kobra tersebut salah mengidentifikasi pisau dapur sebagai mangsanya yang biasa. Hal ini dipicu oleh adanya aroma daging atau sisa darah yang masih menempel erat pada permukaan pisau dapur itu. Ketika ular mendeteksi aroma makanan yang sangat kuat pada benda tersebut, insting predatornya langsung aktif dan mendorongnya untuk memakan pisau itu secara utuh tanpa menyadari bahaya fisik dari besi tajam tersebut.
Bagaimana cara ular mengenali mangsanya jika penglihatannya terkenal kurang baik?
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Ular memiliki keterbatasan fisik yang cukup signifikan dalam hal indra penglihatan. Ular memiliki penglihatan yang buruk, sehingga mereka tidak bisa mengandalkan mata untuk mengenali bentuk mangsa secara detail. Sebagai gantinya, ular sangat fokus menggunakan aroma untuk mendeteksi dan melacak keberadaan makanan di sekitarnya. Dalam kasus ular di Karanganyar ini, organ Jacobson yang berfungsi sebagai indra penciuman khusus pada ular bekerja dengan sangat baik. Organ Jacobson tersebut mampu mendeteksi keberadaan bau spesifik dari sisa makanan pada pisau, sehingga otak ular langsung mengategorikan objek tersebut sebagai makanan yang layak ditelan.
Mengapa ular kobra tidak berusaha memuntahkan kembali pisau tajam yang sudah masuk ke mulutnya?
Secara anatomi, ular kobra memiliki keterbatasan fisik yang fatal ketika sudah menelan suatu benda keras. Ular kobra tidak bisa memuntahkan kembali benda yang telanjur mereka makan. Ketika pisau dapur tersebut mulai masuk ke dalam rongga mulutnya, ular tidak memiliki mekanisme untuk mendorongnya kembali keluar. Hal ini disebabkan oleh struktur gigi ular kobra yang melengkung ke arah belakang. Struktur gigi yang melengkung ke dalam ini sebenarnya berfungsi untuk mencengkeram mangsa hidup agar tidak mudah lepas saat ditelan. Namun, dalam kasus benda mati seperti pisau, gigi yang melengkung ke belakang ini justru mengunci posisi pisau dan membuatnya hanya bisa bergerak searah masuk ke dalam tubuh ular tanpa bisa dikeluarkan lagi.
Apakah fenomena menelan pisau ini ada hubungannya dengan kondisi stres yang dialami ular?
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Meskipun ular kobra ini menelan pisau karena salah mendeteksi aroma makanan, bukan secara langsung akibat stres, namun stres merupakan kondisi nyata yang kerap dialami oleh reptil ini. Menurut pakar dari Universitas Gadjah Mada, ular bisa mengalami stres yang dipicu oleh beberapa faktor lingkungan. Penyebab utama ular mengalami stres di antaranya adalah kondisi lingkungan yang tidak stabil, seperti fluktuasi suhu udara dan tingkat kelembapan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh mereka. Selain itu, perubahan drastis pada habitat asli mereka serta adanya gangguan yang disebabkan oleh aktivitas manusia di sekitar wilayah hidup ular juga berkontribusi besar memicu stres pada hewan ini.
Bagaimana cara mengenali tanda-tanda atau ciri fisik ular yang sedang mengalami stres?
Untuk mengetahui apakah seekor ular sedang berada dalam kondisi stres atau tertekan, masyarakat dapat memperhatikan beberapa ciri perilaku yang ditunjukkannya. Tanda-tanda ular yang sedang mengalami stres antara lain adalah kecenderungan tubuhnya yang sering meringkuk dalam waktu lama. Selain itu, ular juga akan sering menggesek-gesekkan tubuhnya ke substrat atau permukaan yang keras di sekitarnya secara berulang-ulang. Perilaku tidak biasa lainnya adalah tingkat temperamen ular yang menjadi sangat sensitif, sehingga mereka menjadi lebih mudah marah dan berulang kali mengeluarkan suara mendesis sebagai bentuk pertahanan diri ketika mendeteksi adanya ancaman di sekitar mereka.






