Kasus perusakan makam ayah mertua dari seniman kondang mendiang Djaduk Ferianto akhirnya berakhir dengan damai. Peristiwa yang sempat memicu perhatian ini terjadi di kompleks makam lama Pakuncen, yang terletak di kawasan Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Kapolsek Wirobrajan, Kompol Arif Darmawan, menyatakan bahwa perselisihan antara pihak ahli waris dan juru kunci makam tersebut kini telah selesai sepenuhnya setelah menempuh jalur mediasi.
Kesepakatan damai ini tercapai setelah dilaksanakannya pertemuan mediasi pada hari Rabu (12/8) siang. Dalam pertemuan tersebut, Bernadetta Petra, yang merupakan istri dari mendiang Djaduk Ferianto sekaligus ahli waris makam, bertemu langsung dengan juru kunci makam lama Pakuncen yang berinisial S. Kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini secara kekeluargaan dan tidak memperpanjang masalah tersebut ke ranah hukum.
Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh Bernadetta Petra pada Selasa (11/8) pagi saat dirinya hendak berziarah ke makam sang ayah. Ia terkejut ketika mendapati nisan makam ayahnya, yang telah wafat dan dimakamkan sejak tahun 1971, berada dalam kondisi rusak. Makam tersebut berlokasi di kompleks makam lama yang berada di sebelah barat Masjid Kuncen. Selama ini, makam di area tersebut tidak dikenakan biaya sewa sama sekali.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Terkait kerusakan tersebut, juru kunci berinisial S mengakui bahwa dirinya yang telah merusak nisan makam ayah Petra. S mengungkapkan bahwa tindakan merusak dan melepas nisan tersebut dilakukan karena ia ingin bertemu langsung dengan pihak ahli waris. Hal ini dipicu oleh kondisi di mana Petra selama ini dianggap tidak pernah memberikan uang kepadanya selaku juru kunci yang merawat area pemakaman tersebut.
Secara tradisi, para peziarah yang datang ke makam lama Pakuncen biasanya memberikan uang sukarela kepada pengelola makam. Uang tersebut digunakan secara swadaya untuk mendanai kebutuhan kebersihan serta perawatan lingkungan makam. Petra sendiri sebenarnya selalu memberikan uang sekitar Rp10.000 kepada orang-orang di sekitar makam yang membantunya membersihkan makam sang ayah. Namun, karena tidak pernah bertemu langsung dengan S yang merupakan juru kunci resmi, uang tersebut tidak pernah sampai ke tangan S.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Pengelolaan makam lama di kawasan Pakuncen ini memang dilakukan oleh warga setempat secara turun-temurun. Juru kunci S sendiri telah mewarisi tugas mengelola makam ini dari generasi sebelumnya dan telah menjalankannya selama puluhan tahun. Kompol Arif Darmawan menjelaskan bahwa sistem pengelolaan makam lama ini berbeda dan terpisah dari kompleks makam Pakuncen resmi yang dikelola langsung oleh Pemerintah Kota Yogyakarta.
Setelah proses mediasi berjalan lancar, nisan makam yang sempat dirusak kini telah dipulihkan. Pada hari Rabu (12/8), Petra mendapatkan informasi bahwa kepala nisan makam ayahnya telah diperbaiki. Nisan tersebut kini sudah dikembalikan dan dipasang lagi seperti sediakala. Sebagai jalan keluar untuk menyelesaikan masalah jasa perawatan yang belum terbayar, Petra mentransfer uang sebesar Rp500.000 yang ia anggap sebagai utang jasa perawatan, di luar biaya perbaikan nisan yang rusak. Untuk mengantisipasi masalah serupa di masa mendatang, Petra juga menawarkan sistem pembayaran jasa perawatan makam secara bulanan kepada juru kunci.






