Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mendesak penggalangan dana darurat sebesar US$14 juta atau sekitar Rp246,4 miliar menyusul eskalasi perang saudara di Yaman yang memaksa lebih dari 100.000 warga meninggalkan rumah mereka. Lonjakan pengungsian massal ini terjadi setelah pertempuran sengit kembali pecah antara kelompok pemberontak Houthi dan pasukan yang setia kepada pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Eskalasi militer kian memanas setelah milisi Houthi yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan kilat guna merebut kendali penuh atas seluruh pesisir Laut Merah Yaman. Manuver ini ditujukan untuk memperkokoh cengkeraman mereka di Selat Bab al-Mandeb, koridor maritim vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Wilayah perairan tersebut menjadi rute pelayaran alternatif yang sangat krusial setelah jalur utama di Selat Hormuz terganggu akibat konfrontasi Amerika Serikat dengan Iran.
Pertempuran di sepanjang pantai barat Yaman memicu kepanikan warga sipil di berbagai kota pelabuhan. Aisha Muhammad, salah satu warga terdampak, terpaksa melarikan diri dan meninggalkan lima anaknya di desa dekat kota pelabuhan Mocha ketika milisi Houthi menyerbu kawasan tersebut pada pekan lalu. Di tempat lain, Hussein Haydara bersama keluarganya harus bergegas mengungsi dari Hodeidah secara mendadak saat mortir dan rentetan peluru mulai menghujani permukiman mereka.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Sebagian pengungsi memilih mengambil jalur penyeberangan berbahaya melintasi Selat Bab al-Mandeb menuju Djibouti. UNHCR mencatat lebih dari 2.400 orang telah menyeberangi selat tersebut hanya dalam kurun waktu empat hari terakhir. Mayoritas dari mereka yang menyeberang merupakan kelompok rentan, mencakup kaum wanita, anak-anak, dan lansia. Perwakilan UNHCR di Djibouti, Sandrine Desamours, terus berkoordinasi guna menyalurkan bantuan bagi gelombang kedatangan baru di negara tetangga tersebut.
Krisis kemanusiaan di lapangan kini memasuki fase kritis. Tempat penampungan sementara dan komunitas penerima pengungsi mulai kewalahan menampung arus kedatangan warga. Kebutuhan yang paling mendesak meliputi penyediaan tempat tinggal, pasokan pangan, akses air bersih, layanan medis darurat, serta fasilitas perlindungan.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Selain warga lokal, pertempuran ini turut mengancam keselamatan lebih dari 65.000 pengungsi dan pencari suaka yang telah lama terdaftar di Yaman, yang mayoritas berasal dari Somalia dan Ethiopia. Kucuran dana baru yang diajukan UNHCR diharapkan dapat segera terealisasi untuk menopang kebutuhan keluarga pengungsi di dalam wilayah Yaman sekaligus mendukung operasional bantuan kemanusiaan di Djibouti.






