Milisi Houthi merebut kota pelabuhan Mokha sejak Sabtu, memicu lonjakan eskalasi militer dan kekhawatiran kembalinya perang saudara skala penuh di Yaman antara kelompok pemberontak tersebut dan pemerintah yang diakui secara internasional.
Perebutan wilayah pesisir ini terjadi di tengah meningkatnya kembali kontak senjata dalam beberapa bulan terakhir, setelah Yaman sempat melewati periode relatif tenang selama kurang lebih empat tahun. Kelompok Houthi kian gencar memperkuat kendali mereka atas koridor pesisir strategis negara tersebut.
Situasi di Mokha memicu perhatian internasional karena letak geografisnya yang krusial. Kota pelabuhan ini berada sekitar 80 kilometer dari Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Keberadaan jalur laut ini menjadi tumpuan alternatif distribusi energi global, terutama saat akses melalui Selat Hormuz mengalami penutupan.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Gangguan keamanan di sekitar Mokha dan Laut Merah dikhawatirkan dapat menekan rantai pasok maritim dan mengerek kenaikan harga minyak mentah dunia. Ketegangan di wilayah tersebut juga berlangsung berdampingan dengan gesekan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta rentetan kekerasan yang melibatkan Houthi dan Arab Saudi.
Menanggapi kekhawatiran terhadap lalu lintas logistik global, juru bicara Houthi, Abdulsalam, menyatakan bahwa kebebasan navigasi dan aktivitas perdagangan internasional di kawasan Laut Merah maupun selat tetap berada dalam kondisi aman. Pihaknya mengklaim operasi militer yang dijalankan hanya ditujukan kepada target-target tertentu, meski tidak merinci sasaran yang dimaksud secara spesifik.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Sebelum penguasaan atas Mokha, Houthi tercatat pernah melancarkan serangan terhadap sejumlah kapal komersial internasional di Laut Merah sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina di Gaza. Eskalasi perebutan kota pelabuhan ini menandai babak baru ketegangan maritim yang berpotensi memperluas dampak ekonomi dan instabilitas keamanan di Timur Tengah.






