Rencana perayaan Tahun Baru Yahudi atau Rosh Hashanah di Phuket, Thailand, resmi dibatalkan pada menit-menit terakhir pada Jumat (11/9) malam. Langkah pembatalan ini diambil pihak terkait menyusul pertimbangan faktor keamanan yang dinilai tidak kondusif.
Keputusan mendadak tersebut dipicu oleh aksi unjuk rasa pro-Palestina yang digelar di kawasan Patong. Sekitar 500 orang yang tergabung dalam kelompok Save Phuket berkumpul dan menggelar demonstrasi di area tersebut.
Dalam aksinya, massa membawa berbagai poster penolakan, salah satunya bertuliskan "Selamatkan Phuket, Bukan Israel". Para demonstran juga berulang kali meneriakkan seruan "Free Palestine" sepanjang aksi berlangsung.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Situasi kian memanas setelah kelompok pengunjuk rasa merilis pernyataan terbuka yang menegaskan bahwa mereka terus memantau pergerakan seputar acara Tahun Baru Yahudi di kawasan Patong, termasuk keberadaan para peserta yang berada di area vila mewah setempat.
Perubahan Skala hingga Pembatalan Total
Sebelum diputuskan batal sepenuhnya, pihak penyelenggara perayaan Rosh Hashanah mulanya memproyeksikan kehadiran lebih dari 1.000 peserta. Namun, setelah berkoordinasi dan berkonsultasi dengan pejabat keamanan setempat di Phuket, kuota acara sempat dipangkas menjadi sekitar 700 orang demi menekan risiko keamanan.
Kendati skala kegiatan telah diperkecil, tekanan dan eskalasi protes di lapangan akhirnya membuat agenda tersebut tidak memungkinkan untuk dilanjutkan pada Jumat malam.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Sorotan Internasional
Peristiwa di Phuket ini turut menuai perhatian media dan pejabat internasional. Media asal Israel, Jerusalem Post, menyoroti narasi aksi Save Phuket dan menilai bahwa kampanye tersebut berupaya menutupi sentimen antisemitisme dengan dalih menjaga tradisi serta adat istiadat warga lokal Thailand dari pengaruh luar.
Sementara itu, Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Memantau dan Memerangi Antisemitisme, Rabi Yehuda Kaploun, menyampaikan keprihatinannya. Sebagaimana dilaporkan The Times of Israel, Kaploun menyoroti adanya peningkatan retorika antisemitisme yang berkembang di Thailand menyusul insiden tersebut.






