Insiden maut di dalam Terowongan Mont Blanc yang menghubungkan Chamonix di Prancis dan Aosta di Italia menjadi salah satu catatan kelam keselamatan transportasi darat. Tragedi kebakaran yang terjadi pada 24 Maret 1999 tersebut merenggut 39 korban jiwa setelah kobaran api meluas dengan sangat cepat sebelum petugas penyelamat tiba di lokasi kejadian.
Kondisi di dalam terowongan memburuk dalam waktu singkat akibat kepulan asap pekat, temperatur panas ekstrem, dan hilangnya jarak pandang total hingga api menjalar ke puluhan kendaraan lain. Operasi penanganan menghadapi rintangan berat karena petugas di lapangan tidak mengantongi informasi akurat mengenai situasi di dalam lorong, ditambah kendala koordinasi yang rumit antara pos penyelamat di sisi Prancis dan sisi Italia.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Penyelidikan terhadap sumber awal api mengungkap temuan mengejutkan. Seorang ahli bernama Vigier menyatakan bahwa kebakaran dahsyat tersebut dipicu oleh benda kecil berupa puntung rokok. Benda tersebut diduga masuk ke saluran masuk udara dan membakar filter udara truk pertama yang terbakar.
Kendati demikian, kesimpulan tersebut memicu perdebatan di meja hijau. Pihak perusahaan pemilik truk menolak teori puntung rokok di depan pengadilan dan menyebut hipotesis tersebut tidak konsisten dengan rekaman fakta di lapangan. Perusahaan meyakini bahwa insiden murni disebabkan oleh kebocoran oli yang tidak disengaja.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Peristiwa nahas yang merenggut puluhan nyawa ini kemudian menjadi momentum besar bagi pembaruan regulasi keselamatan jalan dan sistem mitigasi kebakaran terowongan di berbagai wilayah.






