tartilybanjary.id
BerandaEkonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalKeuangan DigitalDigital Economy & EarningKeuanganDigital EconomyEkonomi & RegulasiEkonomi GlobalRegulasi & HukumAfiliasiEkonomi KreatorPopuler
Beranda/Afiliasi

Perjalanan Bisnis Pendiri Alfamart dari Warung Kelontong hingga 23.000 Gerai

Sri NugrohoDiterbitkan 8 Agu 2026 - 20.50 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Perjalanan Bisnis Pendiri Alfamart dari Warung Kelontong hingga 23.000 Gerai
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Langkah kaki menyusuri gang-gang pemukiman di berbagai wilayah Indonesia hampir selalu mempertemukan kita dengan gerai berlogo merah-kuning yang khas. Saat ini, jaringan ritel tersebut telah menggurita hingga puluhan ribu cabang di seantero negeri. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa imperium bisnis raksasa ini berawal dari keputusan sederhana seorang pemuda yang memilih menyudahi pekerjaannya sebagai karyawan biasa. Tokoh di balik kesuksesan ini adalah Djoko Susanto, yang juga dikenal dengan nama lahir Kwok Kwie Fo. Sebelum mengelola puluhan ribu gerai modern, ia memulai perjalanannya dari balik meja kasir sebuah warung kelontong sederhana milik keluarganya di kawasan Petojo, Jakarta.

Perjalanan wirausaha

tartilybanjary.id

Copyright 2026 tartilybanjary.id - All Rights Reserved.

Kategori

Ekonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalKeuangan DigitalDigital Economy & EarningKeuanganDigital EconomyEkonomi & RegulasiEkonomi GlobalRegulasi & HukumAfiliasiEkonomi Kreator

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap
Djoko Susanto tidak berjalan secara instan. Sebelum memantapkan diri di dunia perdagangan, ia sempat mencari nafkah sebagai pekerja di sebuah perusahaan perakitan radio. Dorongan untuk memajukan usaha keluarga membuatnya mengambil keputusan besar untuk mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut. Pada tahun 1996, ia memilih kembali untuk membantu ibunya mengelola warung kelontong kecil bernama Toko Sumber Bahagia. Di sinilah naluri bisnisnya mulai terasah tajam. Seiring berjalannya waktu, Toko Sumber Bahagia tidak lagi sekadar melayani pembeli eceran, melainkan mulai memfokuskan diri pada penjualan rokok dalam skala besar. Untuk mendukung fokus baru ini, toko tersebut menjalin kemitraan utama dengan produsen rokok terkemuka, Gudang Garam.

Ketekunan dalam mengelola distribusi rokok membawa hasil yang signifikan. Pada tahun 1987, Djoko Susanto berhasil memperluas jangkauan usahanya hingga memiliki 15 jaringan toko grosir. Prestasi ini membuatnya diakui secara luas sebagai penjual rokok Gudang Garam terbesar pada masa itu. Momentum penting berikutnya terjadi pada akhir tahun 1986, ketika ia bertemu dengan Putera Sampoerna, pemimpin dari PT HM Sampoerna. Pertemuan strategis ini menjadi titik balik penting yang mengubah arah karier dan bisnis Djoko secara menyeluruh. Ia kemudian dipercaya untuk menduduki posisi penting sebagai direktur penjualan di PT Sampoerna, serta menjabat sebagai direktur di PT Panarmas yang bertugas menyalurkan rokok produksi Sampoerna. Pada tahun 1989, ia juga terlibat aktif dalam mempromosikan dan memasarkan produk baru yang cukup fenomenal saat itu, yaitu Sampoerna A Mild.

Baca Juga

Alasan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman Batalkan Rapat di Jakarta demi Kunjungan ke Alor

Alasan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman Batalkan Rapat di Jakarta demi Kunjungan ke Alor

Kolaborasi erat dengan pihak Sampoerna membuka jalan bagi ekspansi ke sektor ritel yang lebih luas. Pada tahun 1989, Djoko Susanto mendirikan PT Alfa Retailindo. Langkah awal pendirian perusahaan ini dilakukan dengan memanfaatkan sebuah gudang milik Sampoerna yang berlokasi di Jalan Lodan Nomor 80 untuk dialihfungsikan menjadi tempat usaha baru. Tempat tersebut kemudian disulap menjadi Toko Gudang Rabat dengan modal awal sebesar Rp 2 miliar. Dalam kepemilikan usaha ini, Putera Sampoerna memegang porsi saham sebesar 40 persen, sementara sisa kepemilikan saham dikuasai oleh Kwok Kwie Fo. Memasuki dekade 1990-an, Toko Gudang Rabat berkembang pesat hingga mengoperasikan 32 gerai dan menjadi pesaing serius bagi Indomaret, jaringan ritel milik Salim Group.

Perkembangan bisnis yang dinamis menuntut adanya adaptasi nama dan badan hukum yang lebih representatif. Pada tanggal 18 Oktober 1999, nama unit usaha ini resmi berganti menjadi Alfa Minimart di bawah naungan PT Sumber Alfaria Triyaja. Gerai pertama yang menggunakan nama baru ini didirikan di Jalan Beringin Raya, Tangerang. Tidak butuh waktu lama bagi perusahaan untuk melangkah ke lantai bursa. Pada tanggal 18 Januari 2000, perusahaan resmi menyatakan diri go public melalui penawaran umum perdana. Pada momen tersebut, nilai kapitalisasi pasar dari Alfa diperkirakan menyentuh angka sekitar 108,29 juta dolar Amerika Serikat.

Baca Juga

Penyebab Penurunan Produksi Sawit Nigeria dan Kerja Sama Strategis dengan Malaysia

Penyebab Penurunan Produksi Sawit Nigeria dan Kerja Sama Strategis dengan Malaysia

Nama yang kita kenal sekarang baru resmi digunakan sejak tanggal 1 Januari 2003, ketika Alfa Minimart melakukan perubahan identitas merek menjadi Alfamart. Sejak perubahan nama tersebut, ekspansi gerai terus berjalan secara masif ke berbagai pelosok daerah. Berdasarkan data operasional terkini, Grup Alfamart kini telah memiliki dan mengelola lebih dari 23.000 toko di seluruh wilayah Indonesia. Jumlah fantastis ini tidak hanya mencakup gerai utama Alfamart, tetapi juga meliputi toko-toko yang berada di bawah pengelolaan anak usahanya, seperti Alfamidi dan Lawson. Dari sebuah warung kelontong kecil di Petojo, perjalanan bisnis ini membuktikan bagaimana pengelolaan rantai pasok yang konsisten dan kemitraan strategis mampu melahirkan raksasa ritel nasional.

Ikuti tartilybanjary.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

RitelAlfamartWirausaha

Berita Terbaru Lainnya

Alasan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman Batalkan Rapat di Jakarta demi Kunjungan ke AlorPenyebab Penurunan Produksi Sawit Nigeria dan Kerja Sama Strategis dengan MalaysiaStrategi Sinergi Kelompok Usaha Bersama Perbankan Daerah dan BPRTarget dan Pelaksanaan Program Sekolah Rakyat Menuju 2027Meniti Karier Advokat Profesional Melalui Program Pendidikan Peradi ProfesionalPenerimaan PCPM Angkatan 41 Bank Indonesia Segera Dibuka Bagi Lulusan S1 dan S2Syarat dan Daftar Promo Elektronik Transmart Full Day Sale 9 Agustus 2026Inovasi Digital dan Teknologi Pengeboran PHE di Wilayah New Frontier

Paling Banyak Dibaca

Realisasi Pendapatan Asli Daerah Sumatera Utara Tembus 50 Persen pada Juli 2026

Ekonomi & Keuangan

Realisasi Pendapatan Asli Daerah Sumatera Utara Tembus 50 Persen pada Juli 2026

1 Agu 2026

Dampak Peningkatan Free Float Saham TPIA Menjadi 25,7 Persen

Afiliasi

Dampak Peningkatan Free Float Saham TPIA Menjadi 25,7 Persen

4 Agu 2026

Panduan Digital Parenting, Cara Melindungi Anak dari Bahaya Internet di Era Digital

Literasi Digital

Panduan Digital Parenting, Cara Melindungi Anak dari Bahaya Internet di Era Digital

1 Agu 2026

Strategi Bisnis Industri Keramik, Aspek Keselamatan Jadi Fokus Utama Produsen

Ekonomi & Bisnis

Strategi Bisnis Industri Keramik, Aspek Keselamatan Jadi Fokus Utama Produsen

1 Agu 2026

Transformasi dan Konsolidasi Asuransi BUMN di Bawah Naungan IFG

Ekonomi Digital

Transformasi dan Konsolidasi Asuransi BUMN di Bawah Naungan IFG

31 Jul 2026

Fakta Seputar Laporan KWP Terhadap Deddy Sitorus ke MKD

Profesi & Regulasi

Fakta Seputar Laporan KWP Terhadap Deddy Sitorus ke MKD

31 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Realisasi Pendapatan Asli Daerah Sumatera Utara Tembus 50 Persen pada Juli 2026Ekonomi & Keuangan 路 1 Agu 2026
  2. 2Dampak Peningkatan Free Float Saham TPIA Menjadi 25,7 PersenAfiliasi 路 4 Agu 2026
  3. 3Panduan Digital Parenting, Cara Melindungi Anak dari Bahaya Internet di Era DigitalLiterasi Digital 路 1 Agu 2026
  4. 4Strategi Bisnis Industri Keramik, Aspek Keselamatan Jadi Fokus Utama ProdusenEkonomi & Bisnis 路 1 Agu 2026
  5. 5Transformasi dan Konsolidasi Asuransi BUMN di Bawah Naungan IFGEkonomi Digital 路 31 Jul 2026