Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan pentingnya penguatan kerja sama lintas sektor dalam memajukan peran dan kualitas perpustakaan di tanah air saat menghadiri peringatan Hari Kunjung Perpustakaan. Keberadaan ruang baca dan pusat pustaka dinilai perlu terus beradaptasi agar mampu menjawab tantangan perkembangan zaman sekaligus menjangkau kebutuhan masyarakat secara luas.
Tradisi peringatan Hari Kunjung Perpustakaan memiliki akar sejarah sejak pertama kali ditetapkan oleh Presiden Soeharto pada 14 September 1995. Kebijakan penetapan tersebut difokuskan untuk mendongkrak minat baca publik sekaligus memperkokoh fondasi budaya literasi di berbagai lapisan masyarakat Indonesia.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Ketimpangan Status Akreditasi Perpustakaan
Berdasarkan data Perpustakaan Nasional tahun 2025, Indonesia mencatatkan total 219.415 unit perpustakaan yang tersebar di berbagai sektor. Komposisi fasilitas tersebut didominasi oleh perpustakaan sekolah di tingkat SD hingga SLTA dan sederajat dengan jumlah 155.904 unit. Selain itu, terdapat 54.344 perpustakaan umum dari skala provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa dan kelurahan. Sebanyak 5.833 unit merupakan perpustakaan khusus di lingkungan lembaga pemerintah, non-pemerintah, serta rumah ibadah, ditambah 3.335 unit perpustakaan perguruan tinggi.
Di balik tingginya jumlah sebaran fisik tersebut, aspek mutu dan standarisasi masih menghadapi pekerjaan rumah yang signifikan. Dari total fasilitas yang ada, baru 14.774 unit atau sekitar 6,73 persen perpustakaan yang telah terakreditasi resmi. Sementara itu, 204.641 unit perpustakaan lainnya atau mencapai 93,27 persen tercatat belum mengantongi akreditasi.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Dorongan Sinergi dan Contoh Nyata
Guna mempercepat pembenahan tata kelola dan fasilitas literasi, sinergi berbagai pemangku kepentingan menjadi langkah strategis yang harus diperkuat. Lestari mencontohkan alih fungsi rumah dinas Bupati Jepara menjadi bagian dari Museum Kartini sebagai bukti konkret keberhasilan kerja sama multipihak. Kecepatan realisasi proyek tersebut menunjukkan bahwa komitmen bersama mampu menghadirkan ruang edukasi dan sejarah yang fungsional bagi masyarakat luas.






