Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) resmi mengoperasikan Bioethanol Development Center di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, pada Senin (14/9/2026). Fasilitas ini disiapkan sebagai pusat percontohan sekaligus pengujian komprehensif guna mempercepat kesiapan rantai pasok energi bersih nasional.
Fasilitas berskala pilot ini dirancang mencakup seluruh tahapan hulu hingga hilir, mulai dari riset pengembangan bahan baku (feedstock), teknik budidaya tanaman energi, uji coba teknologi pemrosesan, hingga tahapan validasi proses produksi bahan bakar bioetanol.
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menjelaskan bahwa pusat riset ini berfokus pada pendekatan teknologi multi-feedstock dan multi-generation. Strategi ini memanfaatkan keanekaragaman sumber biomassa lokal dengan memadukan teknologi bioetanol generasi pertama (1G) yang berbasis bahan pangan atau pati serta generasi kedua (2G) yang memanfaatkan limbah selulosa atau biomassa non-pangan.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Kemitraan Strategis dan Hilirisasi Energi
Peluncuran fasilitas ini disertai penandatanganan dua kerja sama strategis. Pertama, Pertamina NRE menyepakati kemitraan bersama Pemerintah Provinsi Lampung untuk memajukan sektor agribisnis serta memperkuat ketahanan pangan dan ketahanan energi daerah.
Kedua, Pertamina NRE meneken Nota Kesepahaman (MoU) bersama PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Toyota Tsusho Indonesia (TTI), dan Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (raBit). Kerja sama lintas industri ini difokuskan untuk mengeksplorasi kelayakan teknis dan potensi komersial produksi serta penerapan bioetanol berkelanjutan bagi sektor transportasi di Indonesia.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu menyampaikan bahwa Lampung memiliki potensi bioetanol mencapai 430 ribu kiloliter (KL). Menurutnya, realisasi potensi tersebut ditopang oleh beberapa langkah terintegrasi, termasuk reaktivasi pabrik, sinergi dengan PTPN, pengembangan tanaman sorgum terintegrasi 1G dan 2G, hilirisasi singkong dan jagung, serta konversi fasilitas pabrik untuk menunjang ketahanan energi nasional.






