Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak dalam perilaku konsumtif akibat pengaruh teknologi digital. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan algoritma pada perangkat pribadi kini semakin canggih dalam memetakan preferensi belanja pengguna dan memicu transaksi impulsif.
Peringatan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution, saat membuka gelaran Lampung Financial Festival 2026 pada Sabtu (5/9/2026). Ia menekankan pentingnya kesadaran individu agar kendali keputusan finansial tidak sepenuhnya dikendalikan oleh sistem otomatisasi digital.
"Jangan biarkan teknologi mengendalikan keputusan keuangan kita. Kita yang harus tetap memegang kendali," ujar Farid di hadapan para peserta.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Tiga Prinsip Pengelolaan Finansial
Dalam kesempatan tersebut, Farid merinci tiga poin utama bagi anak muda dalam menjaga ketahanan finansial di tengah arus digitalisasi:
1. Sisihkan, Bukan Sisakan Farid mengimbau generasi muda membiasakan diri menyisihkan dana tabungan sejak awal menerima penghasilan. Pola menabung tidak boleh bergantung pada sisa pengeluaran di akhir bulan, melainkan menjadi prioritas utama begitu pemasukan diterima.
1. Kebutuhan di Atas Keinginan Kemudahan transaksi daring yang didukung oleh AI kerap mengaburkan batas antara kebutuhan nyata dan keinginan sesaat. Algoritma pada gawai terus mempelajari kebiasaan harian dan menyajikan penawaran yang menggoda pengguna untuk berbelanja. Menghadapi situasi ini, disiplin dalam membedakan urgensi kebutuhan dinilai menjadi benteng utama.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

1. Membangun Modal Nonmateri Selain tabungan likuid atau aset finansial, generasi muda didorong untuk terus memupuk aset tak berwujud. Farid mengelompokkan modal ini ke dalam tiga pilar: karakter sebagai spiritual capital, wawasan dan keahlian sebagai human capital, serta jaringan relasi yang sehat sebagai social capital.
Ketiga modal nonmateri tersebut dinilai memiliki nilai jangka panjang yang stabil dan akan terus melekat sebagai penunjang produktivitas sepanjang hidup.






