Bagaimana prospek investasi energi hijau di Indonesia, dan mampukah pemain utamanya menjawab tantangan transisi energi global saat ini? Pertanyaan ini kerap muncul di kalangan pelaku industri dan investor yang menaruh perhatian pada sektor energi baru terbarukan (EBT). Menjawab tantangan tersebut, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE menyatakan komitmen kuatnya untuk mempercepat ekspansi kapasitas terpasang panas bumi di tanah air dalam beberapa tahun ke depan.
Langkah konkret ini tecermin dalam upaya keras di mana PGE Kejar Target 1 GW PLTP & Jadi Perusahaan Panas Bumi No 1 di 2028. Target penambahan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) sebesar 1 gigawatt (GW) tersebut kini menjadi fokus utama jangka pendek hingga menengah perusahaan. Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), Fransetya H. Hutabarat, menegaskan optimisme tersebut dalam acara Energy Corner yang berlangsung pada hari Kamis, 20 Agustus 2026. Menurutnya, rekam jejak pengembangan energi panas bumi di Indonesia yang telah terbukti selama 100 tahun menjadi fondasi kuat bagi perusahaan untuk merealisasikan target ambisius tersebut.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Tidak berhenti di tahun 2028 saja, PGE juga membidik sasaran jangka panjang yang lebih besar. Perusahaan berharap dapat mendorong penambahan kapasitas terpasang hingga mencapai 1,8 GW pada tahun 2033 mendatang. Kendati demikian, jalan menuju target tersebut tentu tidak lepas dari berbagai tantangan operasional dan finansial. Fransetya mengungkapkan bahwa salah satu hambatan utama dalam optimalisasi pengembangan panas bumi di Indonesia adalah kebutuhan anggaran investasi yang sangat besar.
Selain faktor pendanaan, ketidakpastian teknis juga membayangi proyek eksplorasi energi hijau ini. Proses eksplorasi dan pengembangan panas bumi memiliki risiko pengeboran (drilling) yang cukup tinggi. Terdapat kemungkinan bahwa kapasitas atau kualitas uap (steam) yang ditemukan saat pengeboran tidak sesuai dengan ekspektasi awal. Risiko geologis inilah yang menuntut perencanaan matang dan alokasi modal yang efisien agar proyek tetap berjalan sesuai target tanpa membebani keuangan perusahaan secara berlebihan.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Melalui pengelolaan risiko yang terukur serta komitmen investasi yang kuat, PGE berupaya menjaga momentum transisi energi nasional. Keberhasilan dalam mengatasi tantangan teknis dan finansial ini akan menjadi penentu utama apakah target penambahan kapasitas 1 GW pada 2028 dan ekspansi berkelanjutan hingga 2033 dapat tercapai sepenuhnya.






