Ambisi Kota Padang untuk menembus panggung dunia melalui jalur kuliner kini mendapatkan angin segar. Upaya Pemerintah Kota Padang untuk mendaftarkan diri sebagai City of Gastronomy dalam jaringan kota kreatif UNESCO atau UNESCO Creative Cities Network memperoleh dukungan penuh dari Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Jika pengajuan ini berhasil lolos kurasi badan dunia tersebut, Padang akan mencatatkan sejarah baru sebagai kota gastronomi pertama dari Indonesia yang masuk dalam daftar prestisius tersebut. Langkah ini diproyeksikan membuka peluang ekonomi baru bagi para pelaku industri kreatif dan kuliner di Sumatera Barat.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa gastronomi memiliki potensi luar biasa untuk menjadi lokomotif utama pengembangan ekonomi kreatif di Kota Padang. Menurutnya, konsep gastronomi tidak boleh hanya dipandang secara sempit sebagai urusan menyajikan makanan di atas piring. Gastronomi merupakan ekosistem kompleks yang melibatkan narasi sejarah, pelestarian budaya, estetika desain, arsitektur, musik, hingga seni pertunjukan yang mengiringi penyajian hidangan tersebut. Sinergi berbagai subsektor kreatif inilah yang diyakini mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal secara berkelanjutan.
Namun, jalan menuju pengakuan UNESCO menuntut pembenahan mendasar di lapangan. Wali Kota Padang, Fadly Amran, menyadari bahwa status internasional memerlukan standar kualitas yang ketat. Pemerintah daerah tengah mempersiapkan berbagai langkah pembenahan yang mencakup revitalisasi kawasan Kota Tua Padang, standarisasi mutu restoran, pemberian rating, serta sertifikasi usaha kuliner. Aspek mendasar seperti higienitas dapur dan toilet tempat makan, kualitas pelayanan pramusaji, hingga kesiapan infrastruktur pendukung pariwisata menjadi fokus utama perbaikan. Tantangan ini menjadi krusial mengingat pertumbuhan sektor pariwisata Padang sedang menunjukkan tren positif, dengan angka kunjungan wisatawan yang melonjak dari sekitar 4,3 juta kunjungan pada tahun 2024 menjadi 5,5 juta kunjungan pada tahun 2025.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Dukungan resmi terhadap langkah besar ini dideklarasikan dalam acara diskusi kuliner bertajuk Talk on Taste yang berlangsung pada Ahad, 9 Agustus 2026. Bertempat di Mini Stage Kawasan Kota Tua, Kota Padang, acara ini dibuka langsung oleh Teuku Riefky Harsya. Kehadiran para tokoh penting dalam kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Padang ke-357 ini menegaskan keseriusan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah. Acara tersebut dihadiri oleh jajaran petinggi kota, termasuk Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir, Sekretaris Daerah Kota Padang Raju Minropa, Ketua Dekranasda Kota Padang Ny. Dian Fadly Amran, Wakil Ketua Dekranasda Kota Padang Ny. Sri Hayati Maigus Nasir, serta Ketua DWP Padang Ny. Nova Raju Minropa.
Selain pejabat pemerintahan, Talk on Taste juga mempertemukan para praktisi industri kuliner nasional untuk merumuskan standar gastronomi Padang. Tokoh-tokoh yang hadir antara lain pakar kuliner senior William Wongso, juru masak utama Lord Ardi, serta perwakilan dari Dewan Kuliner Indonesia seperti Roby Bagindo, Gupta Sitorus, dan Ray Janson. Kehadiran para ahli ini memberikan perspektif profesional mengenai bagaimana cita rasa lokal dapat dikemas untuk memenuhi ekspektasi global tanpa kehilangan nilai otentiknya. Diskusi ini menggarisbawahi bahwa kekuatan gastronomi Minang terletak pada sejarah panjang rempah-rempah dan teknik memasak tradisional yang diwariskan turun-temurun.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Sebagai bentuk aksi nyata yang menghubungkan industri kreatif dengan kepedulian sosial, acara Talk on Taste diramaikan dengan kegiatan masak besar 1.000 porsi nasi goreng rendang. Menariknya, setiap porsi hidangan khas ini dijual kepada masyarakat dengan harga simbolis sebesar Rp357, menyesuaikan dengan angka usia Kota Padang. Seluruh hasil penjualan dari aksi masak massal tersebut dialokasikan sebagai dana bantuan untuk membantu masyarakat yang terkena dampak bencana banjir pada tanggal 3 Agustus sebelumnya. Langkah ini menunjukkan bahwa ekosistem ekonomi kreatif di Padang tidak hanya mengejar pengakuan global, tetapi juga memiliki kepekaan sosial terhadap tantangan lingkungan dan bencana yang dihadapi oleh warganya di tingkat lokal.
Proses pengajuan Padang sebagai City of Gastronomy UNESCO ini masih berjalan dan memerlukan konsistensi komitmen dari seluruh pemangku kepentingan. Keberhasilan program ini nantinya tidak hanya akan meningkatkan citra pariwisata Sumatera Barat di mata internasional, tetapi juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi digital dan kreatif melalui digitalisasi pemasaran kuliner, peningkatan kapasitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, serta penciptaan lapangan kerja baru di sektor kreatif. Evaluasi berkala terhadap infrastruktur fisik dan tata kelola destinasi akan menjadi penentu apakah Padang benar-benar siap menyandang gelar kota gastronomi dunia pertama dari Indonesia.






