Pantauan udara menggunakan drone termal mendeteksi masih adanya potensi titik panas yang berada di bawah tumpukan sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Bogor.
Bupati Bogor Rudy Susmanto menyampaikan bahwa kondisi visual di area TPA wilayah Kabupaten Bogor dan Kota Bogor tersebut menunjukkan penurunan aktivitas kebakaran. Pada Selasa (15/9) sekitar pukul 05.37 WIB, titik api maupun kepulan asap secara kasatmata sudah hampir hilang. Namun, pemeriksaan berbasis sensor panas memperlihatkan ancaman bara yang belum sepenuhnya padam di lapisan dalam sampah.
"Ketika kita mengevaluasi kembali, dari thermal drone yang kita terbangkan, kita masih melihat adanya potensi-potensi titik panas yang berada di bawah tumpukan sampah di TPA Galuga," ungkap Rudy.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Penanganan dan Pembongkaran Titik Panas
Menindaklanjuti hasil pemantauan tersebut, tim di lapangan melanjutkan penanganan dengan membongkar sejumlah titik yang terindikasi masih menyimpan bara. Material sampah dibuka menggunakan alat berat guna memastikan keberadaan titik api tersembunyi, yang kemudian langsung ditindaklanjuti dengan proses pendinginan.
Upaya penanganan kebakaran di TPA Galuga sendiri dilaksanakan secara berkelanjutan selama 24 jam penuh sejak hari pertama kejadian. Operasi pemadaman terpadu ini melibatkan kerja sama lintas pihak antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, jajaran TNI, Polri, serta relawan.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Penurunan Luas Area Terdampak
Kerja sama tim gabungan berhasil mereduksi area kebakaran secara signifikan. Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin mengonfirmasi pada Senin (14/9) bahwa lahan yang terbakar telah berkurang drastis. Dari total luasan 8,4 hektare yang terdampak kebakaran di TPAS Galuga, sisa area yang terbakar berhasil ditekan hingga tersisa sekitar 0,48 hektare.
Keberhasilan meredam kobaran api dicapai melalui serangkaian strategi dan metode teknis. Langkah penanggulangan yang dikerahkan meliputi operasi water bombing oleh TNI Angkatan Udara (TNI AU), pengerahan alat berat untuk mengurai timbunan sampah, pembuatan embung air di sekitar area pembuangan, serta penggunaan drone termal secara berkala untuk memantau titik api yang tersisa di bawah gunungan sampah.






