Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan penyelidikan mendalam atas musibah yang menimpa Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa. Dalam arahan tersebut, Presiden menekankan penanganan menyeluruh sekaligus memastikan seluruh hak keluarga korban terpenuhi tanpa hambatan.
Instruksi itu disampaikan Prabowo saat memimpin rapat terbatas melalui konferensi video dari Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu (16/9/2026). Kepala Negara meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berkoordinasi erat dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), serta melibatkan unsur TNI dan Polri dalam pelaksanaan investigasi komprehensif.
Kronologi Kecelakaan dan Evakuasi Awal
Berdasarkan laporan Kepala Basarnas Mohammad Syafi'i, KMP Virgo mengangkut 243 penumpang dan 89 kendaraan dalam pelayaran dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin. Kapal tersebut mulai berlayar pada 13 September 2026.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Memasuki sekitar pukul 01.00 WIB di perairan Laut Jawa, armada tersebut menghadapi cuaca buruk yang disertai hantaman gelombang kuat dan angin kencang. Sekitar satu jam setelah diterpa cuaca ekstrem, posisi kapal dilaporkan mengalami kemiringan berat hingga akhirnya kehilangan kontak komunikasi satu jam berselang. Basarnas Command Center resmi mengaktifkan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) pada pukul 04.10 WIB.
Pada hari pertama operasi SAR, operasi gabungan berhasil mengevakuasi sebanyak 114 korban. Dari angka tersebut, 108 orang ditemukan dalam kondisi selamat dan 6 orang dinyatakan meninggal dunia. Proses penyelamatan awal turut dibantu oleh sejumlah kapal yang berada di sekitar lokasi, antara lain MT Mauhau, TB TCP, Haida, KM Cahaya Bahari, serta perahu Nelayan Sri Asih.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Pengerahan Tim Bawah Air
Memasuki hari keempat pelaksanaan operasi, Basarnas mengerahkan tiga tim khusus untuk menjalankan penyisiran bawah air. Operasi ini didukung armada KRI Canopus milik Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal).
Kekuatan bawah air tersebut terdiri dari satu tim Basarnas Special Group serta dua tim dari TNI Angkatan Laut yang melibatkan pasukan katak dan penyelam khusus guna memaksimalkan pencarian di lokasi musibah.






