Pemerintah mulai mematangkan rencana peralihan energi nabati nasional dengan menargetkan implementasi bahan bakar minyak (BBM) jenis bioetanol E20. Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk segera menyiapkan dua juta hektare perkebunan tebu sebagai sumber pasokan bahan baku utama.
Instruksi tersebut diterbitkan dalam rapat kabinet terbatas yang berlangsung di Istana Kepresidenan, Jakarta. Program E20 yang memadukan 20 persen etanol dengan bahan bakar minyak ditargetkan dapat terealisasi dalam kurun waktu dua tahun ke depan.
Pembagian Peran Kementerian Pertanian dan Danantara
Untuk merealisasikan target tersebut, pemerintah membagi tugas operasional di sektor hulu dan hilir. Kementerian Pertanian di bawah komando Andi Amran Sulaiman bertugas mengonsolidasikan ketersediaan lahan perkebunan tebu seluas dua juta hektare di berbagai wilayah.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Sementara di sisi hilir dan pengolahan, Presiden Prabowo menugaskan Badan Pengelola Investasi Danantara untuk mengembangkan infrastruktur industri yang dibutuhkan, khususnya fasilitas pengolahan tebu menjadi etanol. Kolaborasi ini dirancang guna memastikan rantai pasok dari kebun hingga pabrik konversi berjalan secara terpadu.
Alasan Pemilihan Tebu dan Distribusi Lahan Nasional
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan alasan pemilihan tebu dibandingkan komoditas nabati lain seperti jagung dan singkong. Dari sisi kelayakan serta kesiapan lahan di lapangan, tebu dinilai sebagai komoditas yang paling memungkinkan untuk segera dimanfaatkan guna memenuhi skala kebutuhan bioetanol nasional.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Lahan seluas dua juta hektare tersebut rencananya akan memanfaatkan area perkebunan eksisting yang tersebar di sejumlah pulau besar, mencakup Kalimantan, Sumatra, Jawa, dan Papua. Pemerintah memastikan bahwa seluruh pasokan tebu untuk program E20 ini akan bersumber penuh 100 persen dari dalam negeri tanpa ketergantungan pasokan impor.
Keberhasilan penyediaan lahan dan pabrikasi etanol untuk program E20 diposisikan sebagai fondasi awal pemerintah sebelum melangkah lebih jauh menuju target jangka panjang, yakni penerapan campuran bahan bakar bioetanol hingga E50.






