Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di Indonesia didorong untuk segera bersiap menghadapi potensi bencana kekeringan yang mengancam sejumlah wilayah produktif. Berdasarkan prediksi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah di Pulau Jawa, Bali, hingga Kalimantan bagian selatan menjadi daerah dengan potensi kekeringan tertinggi. Menanggapi situasi yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan ini, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, menekankan pentingnya penguatan mitigasi secara kolaboratif guna meminimalkan dampak buruk yang mungkin terjadi pada masyarakat dan sektor pertanian.
Berikut adalah berbagai pertanyaan yang sering diajukan terkait potensi kekeringan tahun 2026, dampaknya terhadap sektor produktif, serta langkah-langkah antisipasi yang disiapkan oleh pemerintah.
Wilayah mana saja di Indonesia yang memiliki potensi kekeringan paling tinggi pada tahun 2026?
Berdasarkan data yang dirilis oleh BMKG, wilayah dengan potensi kekeringan tertinggi meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, serta Sulawesi bagian selatan. Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, dalam keterangannya pada Jumat, 31 Juli, menyampaikan bahwa wilayah-wilayah tersebut diprediksi akan mengalami curah hujan di bawah normal hingga awal Oktober. Kondisi ini memerlukan kewaspadaan tinggi karena berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat, terutama yang bergantung pada ketersediaan air.
Kapan puncak musim kemarau 2026 terjadi dan bagaimana perkiraan curah hujannya?
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Puncak musim kemarau pada tahun 2026 diproyeksikan berlangsung pada bulan Agustus hingga September. Selama periode puncak ini, curah hujan di berbagai wilayah berisiko tinggi diperkirakan tetap berada di bawah batas normal hingga awal bulan Oktober. Sementara itu, awal musim hujan diproyeksikan baru akan mulai masuk pada bulan Oktober di sebagian wilayah barat Indonesia. Curah hujan tersebut diperkirakan baru akan meluas ke berbagai wilayah lainnya pada bulan November.
Mengapa Pulau Jawa dikategorikan sebagai wilayah yang sangat rentan terhadap dampak kekeringan ini?
Pulau Jawa menjadi salah satu area yang paling rentan terdampak karena kombinasi beberapa faktor kritis yang memengaruhi ekonomi lokal. Selain proyeksi curah hujan yang masih berada di bawah normal hingga Oktober, kawasan ini memiliki tingkat kepadatan populasi yang sangat tinggi. Di samping itu, Pulau Jawa merupakan pusat aktivitas pertanian nasional. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan air di Jawa sangat tinggi, sehingga defisit curah hujan menjadi ancaman yang sangat nyata bagi keberlangsungan produksi pangan dan ketersediaan air bersih bagi penduduk.
Apa saja risiko spesifik yang dihadapi oleh wilayah Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi?
Masing-masing wilayah memiliki karakteristik risiko yang berbeda akibat kemarau. Untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara, diprediksi akan menghadapi musim kemarau yang cukup panjang. Secara klimatologis, wilayah ini lebih sering mengalami kekeringan sehingga risiko kebakaran hutan dan lahan diperkirakan meningkat. Di Kalimantan, khususnya wilayah selatan dan tengah, curah hujan di bawah normal berpotensi meningkatkan jumlah titik panas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan. Sementara itu, Sulawesi Selatan diperkirakan masih mengalami defisit hujan hingga bulan September, sehingga pemerintah dan masyarakat perlu mewaspadai dampaknya terhadap sektor pertanian maupun ketersediaan air.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Bagaimana rekomendasi mitigasi dan bentuk kolaborasi yang diminta oleh Komisi VIII DPR RI?
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, saat dihubungi pada Sabtu, 1 Agustus 2026, meminta pemerintah dan semua pemangku kepentingan segera bergerak merespons prediksi BMKG tersebut. Penanganan kekeringan harus dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kementerian terkait, TNI-Polri, hingga relawan kebencanaan. Sinergi lintas lembaga ini sangat penting untuk memastikan respons cepat di lapangan dan mencegah dampak ekonomi yang lebih luas sebelum masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih atau mengalami penurunan hasil panen.
Sektor apa saja yang menjadi fokus utama dalam antisipasi dampak kekeringan ini?
Dua hal yang menjadi fokus utama dalam menghadapi dampak kekeringan ini adalah sektor produksi pangan dan perlindungan kelompok rentan. Kementerian Pertanian perlu mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap produksi pangan nasional agar tidak mengganggu stabilitas pasokan. Di sisi lain, Kementerian Sosial bersama pemerintah daerah harus memastikan kelompok rentan memperoleh bantuan yang dibutuhkan apabila terdampak kekeringan berkepanjangan.






