Panggung Konferensi Tingkat Tinggi Shanghai Cooperation Organisation (SCO) di Bishkek menjadi arena diplomasi penting bagi Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Di hadapan para pemimpin dunia, termasuk Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin, Pezeshkian melontarkan pernyataan tegas terkait kelanjutan hubungan tensi tinggi antara Teheran dan Washington.
Pezeshkian menyatakan bahwa Republik Islam Iran siap mengambil langkah serupa jika Amerika Serikat kembali memenuhi komitmen yang telah disepakati sebelumnya. Penegasan tersebut merujuk pada Nota Kesepahaman serta kesepakatan sementara yang dicapai kedua negara pada Juni lalu.
"Saya menyatakan dengan jelas bahwa jika Amerika Serikat kembali ke komitmennya berdasarkan Nota Kesepahaman, Republik Islam Iran akan segera membalas," ujar Pezeshkian di sela-sela forum SCO tersebut.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Kesepakatan sementara pada Juni tersebut mulanya dirancang untuk menghentikan konflik bersenjata yang pecah menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari. Selain meredakan konflik militer, kepatuhan AS terhadap komitmen tersebut dijadikan syarat oleh Teheran untuk menjamin keamanan navigasi dan pelayaran bebas di Selat Hormuz, salah satu jalur logistik paling strategis bagi rantai pasok minyak dunia.
Hubungan kedua negara kembali memanas belakangan ini menyusul aksi saling serang secara langsung. Militer AS dilaporkan melancarkan serangan terhadap fasilitas di Pulau Larak, yang segera dibalas pihak Teheran melalui serangan udara ke dua pangkalan militer AS di Yordania.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Kendati eskalasi sempat melonjak, Pezeshkian menekankan bahwa peperangan tidak mendatangkan keuntungan bagi pihak mana pun. Teheran menyatakan tetap membuka ruang dialog diplomatik dan solusi melalui jalur perundingan damai.
Menanggapi situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan melalui Fox News bahwa Washington akan menyiapkan respons atas serangan Iran. Namun, saat memberikan keterangan terpisah kepada wartawan di Oval Office, Trump menilai dinamika benturan terkini belum mengindikasikan kembalinya perang terbuka dalam skala penuh.






