Kondisi pasar modal di Indonesia saat ini sedang mengalami tekanan jual yang sangat tajam. Hal tersebut terlihat jelas dari volume perdagangan dan nilai transaksi di pasar saham yang tercatat sangat tipis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah anjlok sekitar 29% sepanjang tahun ini. Akibat tekanan jual yang masif tersebut, posisi IHSG saat ini terdorong turun dan berada di kisaran level 6.100. Posisi indeks di level 6.100 saat ini dinilai oleh para analis bersifat oversold atau sudah mengalami jenuh jual. Meskipun kondisi pasar sedang melemah, PT Bank DBS Indonesia meyakini bahwa IHSG bakal bangkit. Indeks diyakini memiliki peluang besar untuk kembali ke level 8.000 pada akhir tahun ini. Menariknya, target pemulihan indeks saham domestik tersebut berada di atas ekspektasi rata-rata para analis pasar modal.
Keyakinan mengenai kebangkitan pasar saham domestik ini disampaikan langsung oleh Head of Research DBS Indonesia, William Simadiputra. Dalam acara Media Briefing DBS Institutional Forum 2026 yang diselenggarakan di Westin Hotel Jakarta pada hari Rabu, 29 Juli 2026, ia memaparkan analisis valuasi pasar saat ini. Menurut pandangannya, valuasi pasar saham Indonesia kini telah mencapai titik terendah yang belum pernah terlihat dalam sepuluh tahun terakhir. Momen ini sebanding dengan situasi sejak Indonesia mendapatkan peringkat investasi untuk pertama kalinya pada tahun 2017 silam. Bank DBS Indonesia memproyeksikan bahwa Price to Earnings Ratio (P/E) akan mencapai 13x. Angka tersebut menunjukkan bahwa valuasi pasar saat ini berada di bawah rata-rata valuasi selama sepuluh tahun terakhir.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Dari sisi fundamental emiten, kinerja perusahaan di dalam negeri masih menunjukkan tren yang sangat positif. Laba perusahaan tercatat masih bertumbuh secara konsisten dari tahun ke tahun, mencapai angka pertumbuhan sebesar 7,5% pada kuartal pertama. Untuk periode selanjutnya, proyeksi pertumbuhan laba perusahaan diperkirakan akan berada di kisaran 4,4%. Terlepas dari berbagai kekhawatiran mengenai kondisi makroekonomi, valuasi pasar diyakini akan tercapai selama kinerja pendapatan perusahaan tetap terjaga dengan baik. Kepercayaan para investor juga diproyeksikan akan mulai pulih seiring dengan rilis pendapatan kuartal kedua, yang saat ini masih kurang dilaporkan di pasar.
Selain kinerja pendapatan perusahaan, terdapat beberapa faktor makroekonomi penting yang turut mendukung prospek positif ini. Salah satunya adalah proyeksi nilai tukar rupiah yang diperkirakan akan berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Faktor pendukung lainnya adalah stabilnya arah kebijakan suku bunga acuan di dalam negeri. Posisi Indonesia di kancah investasi global juga tetap solid karena Indonesia tetap berada di pasar negara berkembang dalam klasifikasi indeks MSCI. Ketetapan klasifikasi dari MSCI ini memainkan peran penting karena mencegah aksi penjualan lebih lanjut oleh dana indeks, sehingga memberikan stabilitas bagi pasar saham domestik.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Dinamika arus modal global saat ini juga menempatkan pasar saham Indonesia pada posisi yang jauh lebih menguntungkan. Terdapat selisih sekitar 50% antara pergerakan pasar saham Indonesia dengan pasar-pasar lain yang sudah bergerak naik lebih dari 20%. Kinerja relatif Indonesia yang sedikit tertinggal dibandingkan negara-negara Asia lainnya justru membuka potensi rotasi dari dana asing untuk masuk ke bursa domestik. Di sisi lain, pasar saham di beberapa negara Asia mulai menunjukkan tanda-tanda overheating. Sebagai contoh, William Simadiputra menyoroti pasar Korea Selatan, di mana laporan kinerja perusahaan seperti SK Hynix Co. Ltd. terbukti meleset dari perkiraan pasar. Dengan posisi IHSG yang sudah anjlok cukup dalam, didukung oleh fundamental kuat dan arah kebijakan ke depan, Indonesia berada di posisi yang menguntungkan dibanding dengan negara-negara lain yang sudah lebih dahulu melesat.






