PT Bank Neo Commerce Tbk. dengan kode saham BBYB, yang juga dikenal luas sebagai BNC, sedang menjalankan strategi penguatan fundamental keuangannya. Bank digital yang berada di bawah naungan kepemilikan Akulaku Silvrr Indonesia ini memproyeksikan sebuah pencapaian penting, yaitu kemampuan untuk menutup seluruh saldo defisit mereka dalam kurun waktu dua tahun ke depan. Pemulihan saldo defisit ini menjadi fokus utama perusahaan karena akan membuka kembali peluang bagi bank untuk mendistribusikan dividen kepada para pemegang saham, sebuah langkah yang sangat dinantikan oleh para pelaku ekonomi digital dan investor pasar modal.
Mengapa PT Bank Neo Commerce Tbk. belum bisa membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya saat ini?
Alasan utama BNC belum dapat membagikan dividen adalah karena perusahaan masih mencatatkan saldo defisit dalam pembukuannya. Direktur Utama BNC, Eri Budiono, menegaskan bahwa bank milik Akulaku Silvrr Indonesia tersebut tidak dapat membayarkan dividen selama masih memiliki saldo defisit. Mengacu pada laporan keuangan perusahaan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2026, BNC tercatat masih memiliki saldo defisit yang belum ditentukan penggunaannya dengan nilai mencapai Rp1,43 triliun. Sebagai catatan historis, bank digital ini terakhir kali membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya pada tahun 2020 yang lalu.
Kapan manajemen BNC memperkirakan saldo defisit tersebut dapat diselesaikan sepenuhnya sehingga pembagian dividen bisa kembali dilakukan?
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Berdasarkan proyeksi awal, manajemen memperkirakan saldo defisit ini dapat ditutup secara organik dalam waktu dua tahun ke depan. Namun, terdapat potensi yang lebih optimis terkait jadwal pemulihan ini. Eri Budiono menyatakan bahwa apabila BNC mampu mempertahankan kinerja dan laju pertumbuhan yang ada pada saat ini secara konsisten, maka penyelesaian saldo defisit senilai Rp1,43 triliun tersebut mungkin dapat direalisasikan lebih cepat, yakni pada tahun 2027.
Bagaimana pencapaian laba bersih BNC sepanjang paruh pertama tahun 2026 yang mendukung optimisme pemulihan tersebut?
Kinerja profitabilitas BNC menunjukkan tren yang positif sepanjang semester pertama tahun 2026. Hingga periode semester I-2026, bank digital ini telah berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp294,85 miliar. Angka perolehan laba tersebut mencerminkan pertumbuhan yang stabil, yakni naik sebesar 6,81 persen secara tahunan dibandingkan dengan perolehan laba pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba inilah yang menjadi motor penggerak utama bagi BNC untuk secara bertahap menutup saldo defisit yang masih tersisa.
Dari mana saja sumber pendapatan utama yang menopang pertumbuhan operasional BNC pada semester pertama 2026?
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Dari sisi pendapatan operasional, BNC mencatatkan hasil yang solid dari dua sumber utama. Pertama, Pendapatan Bunga Bersih tercatat mencapai angka Rp1,11 triliun selama semester I-2026. Kedua, pendapatan berbasis komisi juga menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Pendapatan berbasis komisi BNC meningkat menjadi Rp59,66 miliar, yang merepresentasikan pertumbuhan sebesar 6,77 persen secara tahunan. Peningkatan pada kedua lini pendapatan ini memperkuat struktur keuangan bank dalam upayanya mencapai status bebas defisit.
Bagaimana perkembangan penghimpunan dana nasabah dan total aset yang dikelola oleh BNC?
Kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan digital BNC tercermin dari metrik penghimpunan dana dan aset. Sepanjang semester I-2026, BNC berhasil mencatatkan total aset sebesar Rp17,45 triliun. Sementara itu, total Dana Pihak Ketiga yang berhasil dihimpun oleh bank mencapai Rp12,30 triliun. Di dalam komponen Dana Pihak Ketiga tersebut, dana tabungan nasabah mengalami peningkatan menjadi Rp3,39 triliun. Pencapaian dana tabungan ini tumbuh sebesar 2,10 persen secara tahunan apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, menunjukkan likuiditas yang terjaga dengan baik di tengah upaya pemulihan defisit.






