Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merupakan salah satu indikator penting dalam perekonomian domestik. Bank DBS Indonesia memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berada di rentang Rp17.800 hingga Rp18.000 pada akhir tahun ini. Proyeksi ini disampaikan secara langsung oleh Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao. Memahami proyeksi ini menjadi sangat relevan bagi para pelaku ekonomi, terutama dalam mengelola risiko nilai tukar di tengah dinamika pasar global yang terus berubah sepanjang tahun ini.
Banyak pihak yang menantikan apakah mata uang domestik mampu kembali menguat secara signifikan. Dalam pemaparannya pada acara Media Briefing DBS Institutional Forum 2026 yang diselenggarakan di Westin Hotel Jakarta pada Rabu (29/7/2026), Radhika Rao menjelaskan bahwa kembalinya rupiah ke level Rp17.000 per dolar AS sangat bergantung pada pergerakan nilai tukar mata uang greenback atau dolar AS itu sendiri. Ia menegaskan bahwa pasar benar-benar membutuhkan reaksi yang sangat tajam pada dolar AS itu sendiri untuk membawa pasangan mata uang dolar-rupiah menuju level Rp17.000. Tanpa adanya reaksi tajam tersebut, secara arah pergerakan umum, Radhika Rao meyakini bahwa mata uang garuda ini akan tetap berada di atas level 18.000.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Meskipun diproyeksikan berada di atas level 18.000, tidak ada alasan fundamental untuk terjadi lagi pelemahan yang tajam atas pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Radhika Rao menyatakan bahwa sebagian besar ketidakpastian, baik yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi maupun faktor lokal, sesungguhnya sudah tercermin dalam harga pasar saat ini. Untuk terjadinya pelemahan tajam atas rupiah, dibutuhkan setidaknya dua hingga tiga katalis negatif yang muncul secara bersamaan. Saat ini, satu-satunya potensi katalis negatif yang tersisa hanya berasal dari faktor global, yakni arah kebijakan suku bunga dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Oleh karena itu, perkiraan nilai tukar tersebut masih dapat ditinjau ulang, menyesuaikan secara langsung dengan keputusan kebijakan The Fed ke depannya.
Terkait dengan aliran modal dan investasi portofolio, sentimen risiko di pasar global saat ini masih tergolong sangat tinggi. Radhika Rao mengatakan bahwa saat ini investor asing sedang menahan diri untuk berinvestasi ke mana pun secara global. Jika mereka memutuskan untuk berinvestasi di negara seperti Indonesia atau Korea, perbandingannya bukan lagi sekadar antara negara-negara Asia dan negara-negara berkembang. Perbandingannya kini meluas menjadi antara negara-negara individual, negara berkembang, dan pasar global secara keseluruhan. Situasi penahanan modal ini sangat dipengaruhi oleh tingkat imbal hasil bebas risiko AS yang saat ini berada di kisaran 4,5% hingga 4,6%. Kondisi tersebut menciptakan selisih atau spread sekitar 2% hingga 2,5% dengan imbal hasil aset Indonesia, yang membuat investor terus mengevaluasi penempatan dana mereka secara ketat.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Untuk merespons dinamika global dan menjaga stabilitas pasar keuangan domestik, Bank Indonesia (BI) telah mengambil berbagai langkah strategis yang dinilai sudah sangat tepat. Sepanjang tahun ini, terdapat keputusan Bank Indonesia untuk mengerek suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak 100 bps guna meredam volatilitas. Selain mengandalkan instrumen suku bunga utama, Bank Indonesia juga telah melakukan berbagai langkah non-suku bunga yang mendukung ketahanan moneter. Menurut Radhika Rao, semua bauran kebijakan dari bank sentral ini benar-benar berkontribusi secara signifikan pada stabilisasi pasar keuangan dan pasar obligasi di Indonesia. Resep kebijakan dari otoritas moneter tersebut dinilai efektif dalam menavigasi tekanan eksternal dan menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap aset berdenominasi rupiah.






