tartilybanjary.id
BerandaEkonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan Publik
Beranda/Ekonomi & Keuangan

Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS dan Faktor Penentu Kebijakan Global

Wulan WijayaDiterbitkan 31 Jul 2026 - 05.25 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS dan Faktor Penentu Kebijakan Global
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merupakan salah satu indikator penting dalam perekonomian domestik. Bank DBS Indonesia memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berada di rentang Rp17.800 hingga Rp18.000 pada akhir tahun ini. Proyeksi ini disampaikan secara langsung oleh Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao. Memahami proyeksi ini menjadi sangat relevan bagi para pelaku ekonomi, terutama dalam mengelola risiko nilai tukar di tengah dinamika pasar global yang terus berubah sepanjang tahun ini.

Banyak pihak yang menantikan apakah mata uang domestik mampu kembali menguat secara signifikan. Dalam pemaparannya pada acara Media Briefing DBS Institutional Forum 2026 yang diselenggarakan di Westin Hotel Jakarta pada Rabu (29/7/2026), Radhika Rao menjelaskan bahwa kembalinya rupiah ke level Rp17.000 per dolar AS sangat bergantung pada pergerakan nilai tukar mata uang greenback atau dolar AS itu sendiri. Ia menegaskan bahwa pasar benar-benar membutuhkan reaksi yang sangat tajam pada dolar AS itu sendiri untuk membawa pasangan mata uang dolar-rupiah menuju level Rp17.000. Tanpa adanya reaksi tajam tersebut, secara arah pergerakan umum, Radhika Rao meyakini bahwa mata uang garuda ini akan tetap berada di atas level 18.000.

tartilybanjary.id

Copyright 2026 tartilybanjary.id - All Rights Reserved.

Kategori

Ekonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan PublikEkonomiEkonomi Digital & Bisnis
Ekonomi
Ekonomi Digital & Bisnis
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global
Populer
Baca Juga

Menganalisis Kesehatan Ekosistem Digital Melalui Laporan Keuangan GOTO Semester I-2026

Menganalisis Kesehatan Ekosistem Digital Melalui Laporan Keuangan GOTO Semester I-2026

Meskipun diproyeksikan berada di atas level 18.000, tidak ada alasan fundamental untuk terjadi lagi pelemahan yang tajam atas pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Radhika Rao menyatakan bahwa sebagian besar ketidakpastian, baik yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi maupun faktor lokal, sesungguhnya sudah tercermin dalam harga pasar saat ini. Untuk terjadinya pelemahan tajam atas rupiah, dibutuhkan setidaknya dua hingga tiga katalis negatif yang muncul secara bersamaan. Saat ini, satu-satunya potensi katalis negatif yang tersisa hanya berasal dari faktor global, yakni arah kebijakan suku bunga dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Oleh karena itu, perkiraan nilai tukar tersebut masih dapat ditinjau ulang, menyesuaikan secara langsung dengan keputusan kebijakan The Fed ke depannya.

Terkait dengan aliran modal dan investasi portofolio, sentimen risiko di pasar global saat ini masih tergolong sangat tinggi. Radhika Rao mengatakan bahwa saat ini investor asing sedang menahan diri untuk berinvestasi ke mana pun secara global. Jika mereka memutuskan untuk berinvestasi di negara seperti Indonesia atau Korea, perbandingannya bukan lagi sekadar antara negara-negara Asia dan negara-negara berkembang. Perbandingannya kini meluas menjadi antara negara-negara individual, negara berkembang, dan pasar global secara keseluruhan. Situasi penahanan modal ini sangat dipengaruhi oleh tingkat imbal hasil bebas risiko AS yang saat ini berada di kisaran 4,5% hingga 4,6%. Kondisi tersebut menciptakan selisih atau spread sekitar 2% hingga 2,5% dengan imbal hasil aset Indonesia, yang membuat investor terus mengevaluasi penempatan dana mereka secara ketat.

Baca Juga

Mengapa Pasar Saham Korea Selatan Mengalami Volatilitas Tinggi dan Menarik Perhatian Global

Mengapa Pasar Saham Korea Selatan Mengalami Volatilitas Tinggi dan Menarik Perhatian Global

Untuk merespons dinamika global dan menjaga stabilitas pasar keuangan domestik, Bank Indonesia (BI) telah mengambil berbagai langkah strategis yang dinilai sudah sangat tepat. Sepanjang tahun ini, terdapat keputusan Bank Indonesia untuk mengerek suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak 100 bps guna meredam volatilitas. Selain mengandalkan instrumen suku bunga utama, Bank Indonesia juga telah melakukan berbagai langkah non-suku bunga yang mendukung ketahanan moneter. Menurut Radhika Rao, semua bauran kebijakan dari bank sentral ini benar-benar berkontribusi secara signifikan pada stabilisasi pasar keuangan dan pasar obligasi di Indonesia. Resep kebijakan dari otoritas moneter tersebut dinilai efektif dalam menavigasi tekanan eksternal dan menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap aset berdenominasi rupiah.

Ikuti tartilybanjary.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Bank IndonesiaRupiahNilai TukarEkonomi IndonesiaDolar ASdbs bank

Berita Terbaru Lainnya

Panduan Antisipasi Kemarau Ekstrem 2026 dan Persiapan Modifikasi Cuaca di JakartaDampak Ekonomi Pemberantasan Narkotika dan Pemanfaatan Aplikasi Siger Presisi di Provinsi LampungRincian Kenaikan Tunjangan Kinerja TNI dan Kementerian Pertahanan Tahun 2026Menganalisis Kesehatan Ekosistem Digital Melalui Laporan Keuangan GOTO Semester I-2026Mengapa Pasar Saham Korea Selatan Mengalami Volatilitas Tinggi dan Menarik Perhatian GlobalProyeksi IHSG Menuju Level 8.000 pada Akhir Tahun Menurut Bank DBS IndonesiaPembangunan dan Peluang Ekonomi di Kawasan Batur Kintamani Wajib Selaras dengan AdatCara Memanfaatkan Program TPAKD Sulawesi Utara untuk Mengembangkan Usaha dan Akses Pembiayaan

Paling Banyak Dibaca

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

Finance

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

30 Jul 2026

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

Ekonomi Digital

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

30 Jul 2026

Dampak Kebijakan Pengetatan Impor Gula Rafinasi terhadap Ekonomi Petani Tebu

Ekonomi & Bisnis

Dampak Kebijakan Pengetatan Impor Gula Rafinasi terhadap Ekonomi Petani Tebu

30 Jul 2026

Cara Mengenali Ancaman TPPO di Ekosistem Digital Saat Mencari Peluang Kerja

Keamanan Digital

Cara Mengenali Ancaman TPPO di Ekosistem Digital Saat Mencari Peluang Kerja

30 Jul 2026

Panduan Bayar Tiket MRT Jakarta dengan Kartu Kredit Nirsentuh Mandiri

Keuangan Digital

Panduan Bayar Tiket MRT Jakarta dengan Kartu Kredit Nirsentuh Mandiri

30 Jul 2026

Panduan Antisipasi Kemarau Ekstrem 2026 dan Persiapan Modifikasi Cuaca di Jakarta

Local Guide

Panduan Antisipasi Kemarau Ekstrem 2026 dan Persiapan Modifikasi Cuaca di Jakarta

31 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026Finance 路 30 Jul 2026
  2. 2Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027Ekonomi Digital 路 30 Jul 2026
  3. 3Dampak Kebijakan Pengetatan Impor Gula Rafinasi terhadap Ekonomi Petani TebuEkonomi & Bisnis 路 30 Jul 2026
  4. 4Cara Mengenali Ancaman TPPO di Ekosistem Digital Saat Mencari Peluang KerjaKeamanan Digital 路 30 Jul 2026
  5. 5Panduan Bayar Tiket MRT Jakarta dengan Kartu Kredit Nirsentuh MandiriKeuangan Digital 路 30 Jul 2026
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap