PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menetapkan arah strategis operasional dan pengembangan usahanya untuk tahun 2026. Perseroan memproyeksikan kinerja pertambangan yang solid sembari terus mendorong inisiatif ekspansi bisnis di luar sektor batu bara demi memperkuat keberlanjutan perseroan ke depan.
Optimisme mengenai pencapaian target kerja dan agenda strategis perseroan tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Bambang Ismawan, dalam wawancara pada program Closing Bell CNBC Indonesia bersama Mercy Widjaja pada Jumat (04/09/2026).
Target Produksi dan Pemenuhan DMO 50 Persen
Dalam rencana kerja operasional tahun 2026, PTBA membidik capaian volume produksi batu bara hingga sebesar 48 juta ton. Target ini dirancang untuk menjaga kesinambungan pasokan sekaligus mendukung stabilitas penyediaan energi.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Sejalan dengan target produksi 48 juta ton tersebut, PTBA menegaskan komitmennya untuk mengalokasikan sebanyak 50 persen dari total produksinya guna memenuhi kewajiban pasokan batu bara dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO). Alokasi DMO sebesar 50 persen ini menjadi bagian dari kontribusi perseroan dalam memastikan kebutuhan energi domestik terpenuhi secara optimal.
Ekspansi Bisnis dan Transisi Kendaraan Tambang Listrik
Selain berfokus pada pemenuhan target operasional batu bara dan mandat DMO, manajemen PTBA secara aktif mendorong langkah ekspansi bisnis di luar portofolio batu bara. Diversifikasi ini menjadi salah satu pilar utama perusahaan dalam mengantisipasi tantangan industri serta memaksimalkan peluang pertumbuhan baru.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Di tingkat operasional lapangan, perseroan juga menaruh perhatian besar pada aspek efisiensi energi. PTBA menargetkan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) pada akhir tahun 2026 melalui langkah transisi armada ke kendaraan tambang listrik.
Langkah konversi ke kendaraan tambang listrik pada akhir tahun 2026 ini diarahkan untuk berjalan beriringan dengan realisasi target volume produksi 48 juta ton, sehingga efisiensi konsumsi BBM dan kinerja operasional dapat tercapai secara berkelanjutan.






