Puluhan siswa di dua sekolah dasar di Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan makanan setelah menyantap menu program Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis (3/9/2026). Gejala mual dan muntah dilaporkan muncul tidak lama setelah para siswa mengonsumsi hidangan yang dibagikan pihak sekolah.
Peristiwa ini terjadi di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Srebegan dan MIM Cetan. Salah satu orang tua siswa, Narni, mengungkapkan bahwa ia menerima pemberitahuan dari pihak sekolah sekitar pukul 09.30 WIB karena anaknya mendadak mual dan muntah di kelas.
Camat Ceper Aris Munandar menyampaikan bahwa berdasarkan pendataan sementara, terdapat 33 orang yang terdampak di MIM Srebegan. Penanganan medis langsung diberikan kepada para korban, baik melalui tindakan di lokasi sekolah maupun rujukan ke Puskesmas terdekat. Untuk jumlah siswa yang terdampak di MIM Cetan, pihak berwenang masih melakukan pengumpulan data lengkap di lapangan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Uji Laboratorium Sampel Makanan
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional Kabupaten Klaten, Yoga Angga Pratama, mengonfirmasi bahwa gejala medis sementara ini baru ditemukan di MIM Cetan dan MIM Srebegan. Pihaknya bekerja sama dengan dinas kesehatan setempat guna menyelidiki penyebab pasti dari insiden tersebut.
Dinas kesehatan telah mengambil seluruh sampel makanan yang disajikan untuk diuji di laboratorium. Menu yang dibagikan pada hari tersebut meliputi nasi putih, ikan dori tepung, sayur kombinasi wortel dan kacang panjang, serta tahu bumbu saus.
Kualitas Ikan Dori Kemasan Jadi Sorotan
Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menduga olahan ikan dori kemasan menjadi pemicu timbulnya gejala keracunan karena terindikasi basi saat disajikan kepada siswa.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Ketua Yayasan Sridaya Amanah Sejahtera, Bambang Sridaya, menegaskan bahwa insiden ini bukan disebabkan oleh kesalahan prosedur memasak, higienitas pengolahan, maupun standardisasi penyajian. Masalah diduga bersumber langsung dari bahan baku ikan dori dalam kemasan yang dibeli penyedia.
Menurut Bambang, kondisi fisik kemasan ikan dori tersebut tampak baik pada lapisan atas, namun bagian tengahnya ternyata sudah mengalami penurunan kualitas atau basi saat mulai diproses dan disajikan. Saat ini seluruh pihak terkait masih menunggu hasil uji laboratorium resmi dari dinas kesehatan untuk memastikan kandungan cemaran pada makanan tersebut.






