PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) membidik realisasi minimal satu transaksi akuisisi pada 2027. Dalam paparan publik manajemen, perseroan mengonfirmasi saat ini sedang memproses sejumlah pipeline akuisisi yang tengah menjalani tahapan uji tuntas (due diligence). Ekspansi anorganik tersebut menitikberatkan pada keunggulan kualitas portofolio aset ketimbang mengejar volume kuantitas transaksi.
Target akuisisi pada 2027 direncanakan berjalan beriringan dengan eksekusi penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (private placement) hingga 10 persen saham yang telah mengantongi restu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Independen. Direktur Utama RATU Sumantri Suwarno menjelaskan bahwa perolehan dana dari aksi korporasi tersebut utamanya dialokasikan untuk memperkuat modal kerja (working capital), menyusul adanya kewajiban panggilan modal (cash call) berkala setiap tahun.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Direktur RATU Adrian Hartadi menambahkan, pelaksanaan private placement sekaligus menjadi realisasi dari rencana yang tercantum dalam prospektus penawaran umum perdana (IPO). Dana pendukung tersebut difokuskan untuk pengembangan usaha dan pengambilalihan aset-aset yang telah beroperasi. Perseroan memprioritaskan aset migas berstatus producing dalam rentang 2–3 tahun ke depan guna memitigasi risiko tahapan eksplorasi serta memperkokoh struktur permodalan.
Mengenai pengembalian bagi pemegang saham, perseroan belum dapat merilis estimasi angka pasti terkait rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) untuk tahun buku 2026. Manajemen menyatakan penetapan rasio dividen baru dapat diputuskan pada akhir tahun buku, sejalan dengan evaluasi kinerja tahunan dan penyusunan pagu anggaran untuk periode berikutnya.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Dari sisi pergerakan komoditas, sejumlah proyeksi industri memperkirakan harga minyak mentah pada kuartal IV-2026 akan mengalami penyesuaian menuju kisaran US$ 78 hingga US$ 80 per barel. Kendati demikian, manajemen RATU menilai perseroan berpeluang membukukan kinerja tutup tahun 2026 yang positif dengan memanfaatkan capaian rata-rata harga minyak yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan level harga pada 2025.






