PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. atau BRIS tengah mempersiapkan langkah strategis untuk memperkuat posisinya di industri keuangan syariah, khususnya pada sektor bisnis komoditas emas. Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengungkapkan ketertarikan perseroan untuk mengembangkan produk exchange traded fund (ETF) berbasis emas. Pernyataan tersebut disampaikan saat ditemui di Gedung BSI Tower, Jakarta Pusat, pada Kamis (20/8/2026). Meski minat ini sudah dinyatakan secara terbuka, BSI tidak ingin terburu-buru dalam meluncurkannya karena masih harus mempersiapkan aspek bisnis dan regulasi secara matang.
Langkah kehati-hatian ini diambil mengingat pengembangan produk di industri perbankan memiliki karakteristik yang berbeda. Pengembangan produk di sektor perbankan membutuhkan proses yang lebih panjang dan kompleks dibandingkan dengan lembaga keuangan non-bank. Oleh karena itu, BSI saat ini fokus memastikan seluruh aspek kepatuhan regulasi dan kesiapan model bisnis telah terpenuhi sebelum produk ETF emas tersebut benar-benar direalisasikan dan ditawarkan kepada masyarakat luas.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Selain mempersiapkan produk ETF emas, BSI juga tengah bersiap untuk mengembangkan bisnis simpanan emas. Perseroan mengonfirmasi bahwa mereka telah mengantongi izin yang diperlukan dari regulator untuk menjalankan bisnis simpanan emas tersebut. Sebagai bagian dari persiapan operasional, BSI saat ini sedang giat membangun pasar untuk menyalurkan emas yang dikoleksi dari masyarakat. Melalui ekosistem pasar ini, emas yang disimpan oleh nasabah dapat disalurkan secara produktif kepada pihak-pihak yang membutuhkan, termasuk ke toko-toko emas.
Dalam menjalankan transaksi bisnis ini, aspek keamanan dan kejelasan aset menjadi prioritas. Emas fisik yang menjadi underlying asset dalam transaksi BSI nantinya akan menggunakan skema gold to gold. Skema ini memastikan bahwa setiap transaksi didukung oleh ketersediaan emas fisik yang riil. Saat ini, kekuatan portofolio emas BSI sudah sangat signifikan, di mana total emas kelolaan perseroan telah mencapai sekitar 24 ton. Jumlah kelolaan ini mencakup akumulasi emas yang berasal dari produk gadai emas maupun produk tabungan emas yang dimiliki nasabah.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Pengembangan bisnis berbasis emas ini juga menjadi pilar penting dalam strategi pertumbuhan jangka panjang perseroan. BSI memanfaatkan bisnis emas sebagai instrumen strategis untuk mengakuisisi nasabah baru. Secara khusus, perseroan kini tengah mengejar pertumbuhan pada produk tabungan emas. Menurut manajemen, produk tabungan emas maupun produk cicil emas ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana investasi bagi nasabah, melainkan juga menjadi bagian dari upaya strategis untuk memperbesar kapasitas






