Rencana pembenahan kualitas buku pelajaran untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) kini tengah dipersiapkan secara intensif oleh pemerintah Indonesia. Program perbaikan ini berawal dari perhatian langsung Presiden Prabowo Subianto sewaktu mengecek fasilitas pendidikan dalam kunjungan kerjanya ke sejumlah sekolah. Saat memeriksa buku pelajaran satu per satu, beliau mendapati bahwa material buku yang digunakan relatif rentan dan mudah rusak, bahkan sebagian buku yang dipegang siswa sudah dalam kondisi rusak. Selain masalah ketahanan bahan, ukuran huruf cetakan pada teks pelajaran dinilai terlalu kecil, sehingga murid-murid khususnya di tingkat sekolah dasar harus membaca dalam jarak yang sangat dekat. Temuan nyata di lapangan inilah yang memicu dorongan kuat bagi pemerintah untuk merombak standar mutu buku ajar secara nasional.
Langkah evaluasi ini menegaskan pandangan pemerintah bahwa upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional tidak bisa hanya berfokus pada salah satu komponen saja. Peningkatan standar pendidikan di tanah air mencakup pembenahan kualitas tenaga pengajar serta penyediaan sarana dan prasarana sekolah, namun keberadaan buku pelajaran juga menjadi faktor utama yang tidak boleh diabaikan. Buku ajar yang berkualitas rendah secara fisik maupun visual dapat mengganggu kenyamanan siswa dalam menyerap ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, perbaikan terhadap aspek fisik buku, kejelasan huruf, dan keawetan bahan cetak dinilai sebanding pentingnya dengan pembangunan gedung sekolah maupun peningkatan kompetensi guru.








