Dalam dinamika ekonomi dan investasi, pengelolaan beban utang yang melampaui nilai aset menjadi tantangan krusial bagi kelangsungan sebuah korporasi. Situasi sulit ini tengah dihadapi oleh PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP). Emiten perkebunan kelapa sawit yang merupakan bagian dari Grup Bakrie tersebut memutuskan untuk menempuh skema Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau yang lebih dikenal sebagai aksi korporasi private placement. Langkah ini diambil oleh perseroan sebagai salah satu jalan keluar strategis untuk membenahi struktur neraca keuangannya yang sedang tertekan.
Aksi korporasi berupa private placement ini telah resmi dilaksanakan oleh PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk pada tanggal 4 Agustus 2026. Nilai dari pelaksanaan private placement tersebut ditaksir memiliki estimasi nilai sekitar Rp4,35 triliun. Angka Rp4,35 triliun ini merupakan representasi dari jumlah outstanding utang yang selama ini menjadi bagian dari liabilitas atau kewajiban keuangan perusahaan. Melalui mekanisme konversi utang menjadi saham baru ini, perseroan berupaya untuk merestrukturisasi kewajiban utangnya yang sudah menumpuk.
Dalam rangka pelaksanaan private placement tersebut, UNSP menerbitkan saham baru Seri B dengan jumlah yang cukup signifikan, yaitu sebanyak 14.505.112.734 saham. Saham baru Seri B yang diterbitkan oleh emiten sawit ini memiliki nilai nominal sebesar Rp100 per saham. Sementara itu, untuk harga pelaksanaan dari saham baru tersebut ditetapkan sebesar Rp300 per saham. Dengan skema harga ini, penerbitan saham baru tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi beban kewajiban keuangan perseroan.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Seluruh saham baru Seri B yang diterbitkan dalam aksi korporasi ini didistribusikan kepada 11 pihak yang berbeda sebagai kreditur maupun investor. Berdasarkan rincian distribusi, Poseidon Corporate Services Limited tercatat sebagai pihak penerima porsi saham terbesar dengan alokasi mencapai 9.461.314.663 saham. Posisi penerima terbesar kedua ditempati oleh Unbounded Opportunities Fund SPC-Alpha Investments SP yang memperoleh alokasi sebanyak 3.005.863.413 saham.
Selain dua pihak utama tersebut, terdapat sembilan pihak lain yang turut menerima distribusi saham baru dari UNSP. Pihak-pihak tersebut adalah PT Bakrie Capital Indonesia yang memperoleh 441.222.983 saham, diikuti oleh Pacific Harbor Advisors Pte. Ltd. yang mendapatkan 398.813.333 saham, serta Indo Alam Resources Pte. Ltd. yang menerima sebanyak 373.582.000 saham. Selanjutnya, PT Biofuel Indo Sumatra menerima alokasi sebanyak 309.854.678 saham, Alexander Kirk Bradford memperoleh 283.016.666 saham, dan Drake Private Investments LLC mendapatkan 113.206.666 saham. Sisa saham lainnya didistribusikan kepada Netland Investments Limited sebanyak 56.603.333 saham, PT Danatama Makmur Sekuritas sebanyak 33.333.333 saham, serta Sundaresan Hariharan yang mendapatkan 28.301.666 saham.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Meskipun aksi korporasi bernilai triliunan rupiah ini telah rampung dilaksanakan, neraca keuangan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk masih menghadapi tantangan yang sangat berat. Setelah pelaksanaan private placement (PMTHMETD) ini diselesaikan, posisi ekuitas dari emiten bersandi saham UNSP tersebut tercatat masih berada di zona negatif, yaitu minus Rp919,08 miliar. Kondisi ini tidak terlepas dari posisi keuangan perusahaan di mana jumlah liabilitas dan kewajiban utang perseroan telah setara dengan 143,51% dari total aset yang tercatat. Sebagai informasi, total aset yang tercatat milik UNSP saat ini adalah sebesar Rp3.487.979.293.361. Dengan rasio tersebut, nilai liabilitas perseroan dipastikan telah melebihi 80% dari total aset yang dimilikinya.
Untuk dapat keluar dari jerat ekuitas negatif dan memperbaiki kondisi keuangannya secara keseluruhan, manajemen UNSP telah merumuskan sejumlah rencana strategis. Perusahaan berencana mengatasi persoalan ekuitas negatif tersebut dengan cara meningkatkan produktivitas serta profitabilitas dari kegiatan operasionalnya. Selain itu, pihak manajemen juga berkomitmen untuk terus melanjutkan proses restrukturisasi utang dan ekuitas perusahaan agar dapat mencapai struktur permodalan yang lebih sehat dan berkesinambungan di masa depan.






