Indonesia memegang peranan krusial dalam peta transisi energi regional dan global berkat penguasaan 80 persen potensi panas bumi di kawasan ASEAN, yang mencakup 40 persen dari total potensi panas bumi dunia. Memanfaatkan kekayaan sumber daya energi bersih tersebut, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) terus mempercepat produksi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Kinerja Keuangan dan Operasional Semester I-2026
Komitmen PGE dalam meningkatkan pemanfaatan energi geotermal tercermin dari capaian finansial dan operasional yang solid sepanjang Semester I-2026. Pada periode enam bulan pertama tahun ini, perseroan berhasil membukukan pendapatan sebesar USD 235 juta, naik 14,73 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti oleh penguatan laba bersih yang mencapai USD 79,605 juta, melonjak 15,48 persen (yoy). Kinerja keuangan yang positif ini didorong secara langsung oleh peningkatan volume produksi listrik panas bumi serta terjaganya keandalan operasional di seluruh pembangkit yang dikelola perseroan.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Hingga pertengahan tahun 2026, realisasi produksi listrik panas bumi PGE telah menyentuh 53 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAB), mencatatkan pertumbuhan hampir 14 persen. Capaian pertengahan tahun yang melampaui separuh target tersebut memperkuat optimisme Direktur Utama PGE Ahmad Yani untuk merealisasikan rekor tertinggi baru atau all-time high pada target produksi tahun 2026.
Tiga Strategi Kunci dan Ekspansi Proyek PLTP
Guna memastikan keberlanjutan produksi dan menjaga keandalan fasilitas pembangkit, PGE menerapkan pemanfaatan teknologi tinggi serta terus meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia (SDM). Selain keunggulan teknis, perseroan menjalankan tiga strategi bisnis utama untuk memacu pertumbuhan jangka panjang.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Strategi pertama adalah managing based, yakni fokus menjaga dan mengoptimalkan aset-aset eksisting agar terus berfungsi sebagai penghasil pendapatan (revenue generator) yang stabil. Strategi kedua adalah growth strategy, di mana perseroan membidik peningkatan kapasitas terpasang menjadi 1 Gigawatt (GW) pada 2028. Strategi ketiga difokuskan pada pengembangan portofolio beyond energy.
Dalam rangka mengeksekusi agenda ekspansi kapasitas tersebut, PGE telah menyerap belanja modal (capital expenditure/Capex) sebesar USD 23 juta. Realisasi Capex ini dialokasikan untuk membiayai pengerjaan proyek strategis, termasuk pengembangan proyek PLTP Lumut Balai 3 dan proyek PLTP Ulubelu, yang dirancang selaras dengan target Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP).






