Kondisi neraca pembayaran Indonesia menghadapi dinamika yang cukup menantang pada paruh pertama tahun 2026. Neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) mencatatkan defisit yang melebar pada kuartal II-2026, mencapai US$ 12,5 miliar atau setara dengan 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Capaian tersebut mengalami peningkatan defisit yang cukup tajam jika dibandingkan dengan realisasi pada kuartal I-2026 yang tercatat sebesar US$ 3,6 miliar atau 1% dari PDB.
Pelebaran defisit transaksi berjalan ini menegaskan pentingnya pasokan devisa dan arus modal masuk dari luar negeri guna menjaga stabilitas eksternal perekonomian nasional serta mempertahankan ketahanan nilai tukar domestik.
Kinerja Transaksi Modal dan Posisi Cadangan Devisa
Di tengah pembengkakan defisit transaksi berjalan pada kuartal kedua, kinerja transaksi modal dan finansial Indonesia menunjukkan perkembangan yang positif. Pos transaksi modal dan finansial berbalik membukukan surplus sekitar US$ 12,0 miliar. Kinerja surplus tersebut terutama ditopang oleh realisasi investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) serta aliran portofolio (portfolio inflows) yang masih terjaga masuk ke pasar domestik.
Selain ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial, ketahanan sektor eksternal Indonesia didukung oleh cadangan devisa yang mencukupi. Pada akhir Juni, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$ 145,6 miliar. Jumlah cadangan devisa tersebut dinilai masih cukup kuat karena setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor dan pembayaran kewajiban utang luar negeri pemerintah.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Di sisi persepsi pasar internasional, tingkat kepercayaan terhadap stabilitas Indonesia tetap terjaga. Lembaga penyedia indeks global MSCI memutuskan untuk mempertahankan klasifikasi Indonesia sebagai emerging market. Sementara itu, lembaga pemeringkat internasional S&P juga mempertahankan prospek (outlook) peringkat Indonesia pada level yang stabil.
Perbedaan Proyeksi CAD Sepanjang 2026
Para ekonom dan analis perbankan memberikan proyeksi yang beragam mengenai besaran defisit transaksi berjalan Indonesia hingga akhir tahun 2026.
Chief Economist Bank Danamon, Irman Faiz, memperkirakan bahwa defisit transaksi berjalan sepanjang tahun 2026 akan berada di kisaran 1,5% dari PDB. Meski angka tersebut menunjukkan pelebaran dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya, Bank Danamon menilai defisit transaksi berjalan masih berada dalam batasan yang terkelola.
Sementara itu, pandangan yang lebih berhati-hati disampaikan oleh Chief of Macroeconomic and Market Research Permata Bank, Faisal Rachman. Faisal memproyeksikan bahwa CAD berpotensi membengkak ke kisaran 2,5% hingga 3,0% dari PDB pada tahun 2026. Estimasi ini mencerminkan lonjakan signifikan dibandingkan dengan realisasi defisit transaksi berjalan pada tahun 2025 yang hanya tercatat sebesar 0,11% dari PDB.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Estimasi Cadangan Devisa dan Nilai Tukar Rupiah
Dinamika neraca pembayaran dan pelebaran defisit transaksi berjalan turut mempengaruhi perkiraan cadangan devisa serta tren nilai tukar rupiah di masa mendatang.
Permata Bank memperkirakan cadangan devisa Indonesia akan mengalami penurunan ke rentang US$ 143 miliar hingga US$ 147 miliar pada penutupan tahun 2026. Angka tersebut menyusut dibandingkan dengan posisi cadangan devisa pada akhir tahun 2025 yang mencapai US$ 156,47 miliar. Dari sisi nilai tukar, Permata Bank memproyeksikan kurs Rupiah terhadap Dolar AS pada akhir 2026 berada dalam kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per Dolar AS.
Di sisi lain, proyeksi skenario dasar (baseline) dari Bank Danamon menempatkan nilai tukar USD/IDR pada akhir tahun 2026 di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.150 per Dolar AS. Melalui estimasi ini, level Rp18.000 dinilai bukan merupakan skenario risiko ekstrem (tail-risk scenario), melainkan masih berada dalam rentang pergerakan fundamental ekonomi.






