Penulis buku legendaris Rich Dad, Poor Dad, Robert Kiyosaki, membuat pengakuan mengejutkan mengenai kondisi finansialnya saat hadir dalam siniar The Iced Coffee Hour. Kiyosaki mengungkapkan bahwa dirinya memiliki akumulasi utang yang menembus angka US$1,2 miliar atau setara sekitar Rp21,32 triliun dengan asumsi kurs Rp17.770 per dolar AS.
Pernyataan tersebut memicu pertanyaan luas mengenai alasan di balik penumpukan utang dalam jumlah sebesar itu. Berdasarkan keterangannya, pinjaman skala raksasa tersebut tidak dihamburkan untuk keperluan konsumtif, melainkan digunakan secara strategis untuk mengakuisisi aset riil yang mampu mendatangkan arus kas sekaligus mencatatkan apresiasi nilai.
Strategi Akuisisi Real Estate dan Struktur Pinjaman
Kiyosaki menegaskan bahwa alasan utama pihak perbankan bersedia mengucurkan kredit hingga triliunan rupiah terletak pada sektor yang ia bidik, yakni real estate. Saat ini, Kiyosaki mengklaim memiliki portofolio berupa hotel dan sekitar 15.000 properti sewa yang menurutnya mampu menghasilkan pemasukan besar secara efisien dari sisi perpajakan.
Meski angka yang disebutkan mencapai US$1,2 miliar, beban kewajiban tersebut faktanya bukan murni tanggungan pribadi Kiyosaki secara penuh. Sebagian besar utang itu berada di bawah naungan kelompok investor properti yang melibatkan dirinya bersama sejumlah mitra bisnis.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Mantan istri sekaligus rekan bisnisnya, Kim Kiyosaki, melansir laporan Money Wise, menerangkan bahwa liabilitas itu terkait langsung dengan kepemilikan sekitar 1.500 unit apartemen. Porsi utang yang benar-benar menjadi tanggung jawab personal Robert Kiyosaki disebut berada pada jumlah yang jauh lebih kecil dibandingkan total nilai kelompok bisnis tersebut.
Di pasar global, alokasi modal pada sektor properti memang menjadi instrumen dominan bagi pengelola kekayaan besar. Instrumen fisik ini tercatat menyumbang hampir 25 persen dari total portofolio family office pada umumnya.
Diversifikasi Aset dan Jejak Edukasi Finansial
Selain mengandalkan utang produktif untuk memperluas kepemilikan properti sewa, Kiyosaki dikenal konsisten mengarahkan alokasi dananya ke instrumen alternatif. Ia memegang logam mulia seperti emas serta mata uang kripto Bitcoin, yang ia posisikan sebagai instrumen lindung nilai guna mengantisipasi penurunan daya beli uang kertas akibat inflasi.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Dalam profil yang dirilis Vanity Fair pada Agustus 2026, Kiyosaki memaparkan bahwa pemikiran keuangannya berakar dari pertemuannya dengan futuris R. Buckminster Fuller puluhan tahun silam. Fuller mendorongnya untuk tidak sekadar mengejar kekayaan pribadi, tetapi juga memiliki tujuan edukasi yang lebih luas.
Kiyosaki kemudian merintis perusahaan edukasi keuangan Money & You bersama Kim Kiyosaki dengan memanfaatkan metode simulasi permainan, sebelum akhirnya merancang permainan papan Cashflow. Konsep pemanfaatan utang dan aset tersebut kemudian dibukukan dalam Rich Dad, Poor Dad pada 1997, karya yang hingga kini telah terjual lebih dari 44 juta kopi di seluruh dunia.






