Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026. Di tengah penantian pasar terhadap keputusan suku bunga acuan tersebut, nilai tukar rupiah berhasil membalikkan arah dan ditutup menguat tipis terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu (16/9/2026).
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di posisi Rp17.675/US$, mencatatkan apresiasi sebesar 0,03%. Kenaikan tipis ini memutus tren pelemahan nilai tukar Garuda yang sebelumnya berlangsung selama empat hari berturut-turut.
Pergerakan mata uang domestik sempat mengalami tekanan hebat pada awal sesi. Rupiah dibuka melemah ke level Rp17.700/US$ dan sempat merosot hingga menyentuh titik terlemah harian di posisi Rp17.740/US$. Tekanan jual mulai mereda menjelang penutupan, membuat rupiah mampu rebound dan terkerek naik 65 poin dari level terendahnya pada hari yang sama.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Pelemahan Dolar AS Jelang Hasil FOMC
Penguatan rupiah terjadi beriringan dengan melandainya kekuatan mata uang Negeri Paman Sam di pasar spot. Indeks Dolar AS (DXY), tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau turun 0,05% ke level 99,564 pada pukul 15.00 WIB. DXY sebelumnya sempat menguat 0,12% ke posisi 99,730 pada pembukaan pagi hari pukul 09.00 WIB.
Pelaku pasar saat ini mematok probabilitas sekitar 90% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Apabila langkah tersebut diputuskan pada pengumuman Kamis dini hari waktu Indonesia, kebijakan tersebut menandai kenaikan suku bunga acuan pertama The Fed sejak 2023.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Currency Strategist Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, menjelaskan bahwa ekspektasi pasar sudah terlampau tinggi sehingga ruang penguatan dolar AS menjadi terbatas. Mengingat kenaikan 25 basis poin telah diperhitungkan sekitar 90%, penguatan dolar AS diproyeksikan hanya bersifat moderat jika The Fed merealisasikan pengetatan tersebut.
Fokus investor global tidak hanya terpaku pada besaran penyesuaian suku bunga, melainkan juga menantikan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh. Pernyataan resmi Warsh akan menjadi petunjuk utama bagi pasar keuangan dalam membaca arah kebijakan moneter AS pada sisa periode mendatang.






