Ketua The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh memberikan sinyal moneter hawkish yang memicu volatilitas baru di pasar valuta asing global. Pernyataan tersebut kembali mengangkat pamor greenback dan membuat nilai tukar rupiah tertekan hingga penutupan perdagangan awal pekan.
Berdasarkan data Refinitiv pada penutupan perdagangan Senin (31/8/2026), mata uang rupiah terdepresiasi sebesar 0,14% ke posisi Rp17.710 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 25 poin dibandingkan level penutupan perdagangan Jumat (28/8/2026) di angka Rp17.685 per dolar AS.
Pergerakan intraday rupiah mencatatkan fluktuasi yang cukup dinamis. Kurs Garuda sempat terseret hingga menyentuh titik terendah harian di level Rp17.755 per dolar AS. Tekanan tersebut perlahan terpangkas sebesar 45 poin menjelang akhir sesi, sehingga rupiah ditutup sedikit lebih kuat dibandingkan level pembukaan pagi hari di posisi Rp17.725 per dolar AS.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Dampak Sinyal Suku Bunga The Fed
Pelemahan mata uang kawasan dipicu oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga acuan di Amerika Serikat. Dalam pidato perdananya di simposium ekonomi Jackson Hole, Kevin Warsh menegaskan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan rumah yang harus dituntaskan apabila laju inflasi tidak kunjung mereda menuju target 2%.
Sinyal pembukaan ruang kenaikan suku bunga tersebut langsung direspons cepat oleh pelaku pasar keuangan. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed minimal 25 basis poin pada pertemuan September 2026 melonjak menjadi 57,5%, melesat dari perkiraan awal yang berada di kisaran 35% sebelum pidato Warsh berlangsung.
Sentimen tersebut sebelumnya telah mengerek dolar AS hampir 0,9% sepanjang pekan lalu, mencatatkan reli mingguan tertingginya dalam rentang 10 pekan. Indeks dolar AS (DXY) juga sempat menembus level 99,727 yang merupakan posisi tertinggi sejak 17 Agustus 2026. Pada perdagangan Senin (31/8/2026) pukul 15.00 WIB, laju DXY mulai melandai dengan pelemahan tipis 0,16% ke level 99,550 setelah sempat melonjak 0,55% pada penutupan akhir pekan lalu.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Agenda Paripurna Penetapan Pimpinan Bank Indonesia
Dari ranah domestik, dinamika pasar keuangan berlangsung di tengah persiapan pergantian kepemimpinan otoritas moneter nasional. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengagendakan Rapat Paripurna pada Selasa (1/9/2026) guna membahas penetapan pimpinan baru di Bank Indonesia.
Agenda sidang paripurna tersebut meliputi penetapan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia untuk masa jabatan 2026–2031. Selain posisi pucuk pimpinan, rapat paripurna DPR juga dijadwalkan menetapkan Aida S. Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia serta Solikin M. Juhro sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia.






