Peluang penguatan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai cukup terbuka dalam jangka pendek. Jarak pergerakan kurs dari posisi Rp17.600-an tergolong relatif dekat, didukung oleh ruang penguatan secara fundamental. Meski demikian, laju apresiasi mata uang Garuda memerlukan kombinasi faktor domestik dan eksternal yang solid.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai pengujian level psikologis Rp17.500 hingga Rp17.550 per dolar AS berpotensi terjadi dalam beberapa pekan ke depan. Kendati demikian, tercapainya level tersebut bergantung pada empat parameter utama di pasar keuangan dan komoditas global.
4 Syarat Utama Menuju Level Rp17.500
Menurut kalkulasi Bank Permata, pergerakan rupiah menuju Rp17.500 per dolar AS dapat terealisasi apabila empat kondisi berikut terpenuhi:
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

- Arus modal asing terus mengalir masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dengan porsi dana masuk ke SBN yang semakin membesar.
- Dolar AS tidak mengalami lonjakan penguatan kembali secara tajam di pasar global.
- Harga minyak mentah dunia bergerak stabil dan tidak kembali mencatatkan kenaikan drastis.
- Tingkat kepercayaan pasar tetap terjaga bahwa Bank Indonesia (BI) mampu mempertahankan stabilitas moneter tanpa harus menerapkan kenaikan suku bunga tambahan.
Aliran dana asing yang tidak hanya bertumpu pada SRBI melainkan juga mengalir deras ke SBN dinilai menjadi pendorong penting untuk menguji level apresiasi tersebut dalam waktu dekat.
Keseimbangan Baru dan Faktor Kerentanan Eksternal
Kendati penguatan menuju Rp17.500 dimungkinkan, level tersebut belum dapat dikategorikan sebagai titik keseimbangan baru (new equilibrium). Ketidakpastian global, terutama fluktuasi harga minyak yang belum stabil, masih membuka ruang volatilitas.
Jika harga komoditas energi kembali melonjak atau pelaku pasar kembali mengantisipasi pengetatan kebijakan suku bunga AS yang lebih agresif, nilai tukar rupiah berisiko melemah kembali ke rentang Rp17.700 hingga Rp17.900 per dolar AS. Ketahanan kurs rupiah di bawah level Rp17.500 secara berkelanjutan dinilai membutuhkan perbaikan fundamental yang lebih kuat pada transaksi berjalan serta pasokan devisa di pasar domestik.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Pandangan Kontras Proyeksi Akhir 2026
Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David E. Sumual memaparkan perspektif pergerakan kurs yang lebih dinamis sepanjang 2026. David melihat adanya potensi rupiah untuk menguat kembali hingga menyentuh level Rp16.000 per dolar AS, khususnya pada kuartal III-2026.
Namun, untuk proyeksi hingga akhir 2026, BCA memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada pada rentang Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS. Estimasi penutupan tahun tersebut didasarkan pada asumsi bahwa bank sentral AS (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga acuannya setidaknya satu kali guna merespons risiko inflasi yang masih membayangi perekonomian AS.






