Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (10/9/2026), membawa mata uang Garuda menembus ke bawah level psikologis Rp17.500 per dolar AS. Pergerakan positif ini sekaligus mempertahankan posisi rupiah di level terkuatnya dalam hampir 17 pekan terakhir.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah terapresiasi tipis 0,03% ke posisi Rp17.495/US$ pada pembukaan transaksi. Penguatan pagi ini melanjutkan momentum dari sesi sebelumnya pada Rabu (9/9/2026), saat rupiah ditutup melesat 0,71% ke level Rp17.500/US$. Posisi saat ini menempatkan rupiah pada rentang terbaiknya sejak 15 Mei 2026.
Pelemahan Dolar AS dan Ekspektasi Suku Bunga Global
Apresiasi mata uang domestik sejalan dengan melunaknya posisi indeks dolar AS (DXY) di pasar global. Pada pukul 09.00 WIB, indeks yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tersebut terpantau melemah 0,03% ke level 98,784.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Dolar AS saat ini juga berada di dekat level terendah dalam tujuh bulan terhadap yen Jepang. Pasar mengantisipasi langkah Bank of Japan (BOJ) yang diperkirakan bakal menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan tanggal 17–18 September. Prospek pengetatan kebijakan tersebut telah mendorong penguatan mata uang yen sekitar 4% sepanjang September.
Pelaku pasar valuta asing turut menantikan keputusan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada 15–16 September.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Faktor Domestik dan Tantangan Lonjakan Minyak
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah ditopang oleh rilis data ekonomi yang menunjukkan ketahanan daya beli masyarakat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat meningkat ke level 118,5 pada Agustus. Kinerja konsumsi domestik ini menunjukkan pemulihan bertahap dibandingkan posisi Mei ketika penjualan eceran sempat mengalami kontraksi 3,9%.
Meski rupiah berada dalam tren menguat, pasar tetap mencermati dinamika harga komoditas energi global. Harga minyak mentah jenis Brent tercatat melonjak 3,36% dan ditutup di level US$101,21 per barel, level tertinggi sejak Mei 2026. Perkembangan harga energi dunia ini menjadi salah satu faktor eksternal yang terus dipantau terhadap stabilitas transaksi berjalan dan inflasi domestik.






