Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali pekan ini di zona hijau. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda terapresiasi sebesar 0,14% dan dibuka pada level Rp17.560/US$ pada perdagangan Senin (14/9/2026).
Pergerakan positif pada pembukaan transaksi ini membalikkan tren pelemahan di akhir pekan lalu. Pada perdagangan Jumat (11/9/2026), rupiah sempat terdepresiasi 0,31% hingga parkir di posisi Rp17.585/US$.
Di pasar global, pergerakan mata uang masih dibayangi dinamika nilai tukar dan rilis data makroekonomi AS. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja mata uang greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat tipis 0,05% ke posisi 99,176 pada pukul 09.00 WIB.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Tekanan Eksternal dan Ekspektasi Bunga Global
Sentimen pasar keuangan global awal pekan ini kembali diuji oleh eskalasi ketegangan geopolitik dan harga komoditas energi. Serangan baru yang menyasar wilayah Arab Saudi dan armada kapal di kawasan Teluk pada hari Minggu memicu lonjakan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebesar 2,8% pada sesi perdagangan Asia pagi ini. Kenaikan ini terjadi seusai aksi ambil untung yang menekan harga minyak 2,37% pada hari Jumat, setelah melonjak sekitar 14% sepanjang pekan sebelumnya.
Dari sisi indikator ekonomi AS, inflasi konsumen tercatat naik 0,4% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan pada periode Agustus, sejalan dengan proyeksi konsensus pasar. Namun, laju inflasi inti membukukan kenaikan terbesar sejak April. Data tersebut mendorong ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve pada pekan ini menjadi 87%, melonjak dari 72% pada posisi Kamis lalu.
Dorongan Penggunaan Mata Uang Lokal
Di tengah volatilitas pasar valuta asing internasional, otoritas Indonesia terus mendorong inisiatif perluasan transaksi menggunakan mata uang lokal (local currency transaction) untuk aktivitas perdagangan dan investasi lintas negara, khususnya di lingkup anggota BRICS.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Sikap tersebut ditegaskan dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS yang berlangsung di Mumbai, India, pada 9–10 September 2026.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa Indonesia melihat adanya peluang strategis bagi BRICS untuk mengubah tantangan global menjadi resiliensi bersama melalui penguatan kerja sama nyata, mencakup transaksi mata uang lokal serta interkoneksi pembayaran lintas negara dengan tetap menyesuaikan tahap pembangunan dan prioritas masing-masing negara anggota.






