Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Jumat (4/9/2026). Mata uang Garuda terapresiasi sebesar 0,11% ke posisi Rp17.630/US$, yang sekaligus menandai level penutupan terkuat rupiah dalam 15 pekan terakhir.
Sejak pembukaan pasar, rupiah langsung bergerak di zona hijau dengan lonjakan 0,23% ke posisi Rp17.610/US$. Kendati keuntungan tersebut sempat terpangkas 20 poin hingga bel penutupan dibunyikan, posisi rupiah tetap kokoh berada di teritori positif.
Dorongan Pelemahan Dolar dan Sentimen Global
Apresiasi mata uang domestik didorong oleh anjloknya indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,69% pada perdagangan Kamis sebelumnya. Penurunan tersebut memberikan ruang longgar bagi mata uang pasar berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat. Meskipun indeks DXY terpantau naik tipis 0,12% ke level 99,026 pada pukul 15.00 WIB hari ini, dominasi greenback masih cenderung tertahan.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Sentimen terhadap dolar AS turut mereda pascapernyataan Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Christopher Waller, yang membuka peluang penahanan suku bunga acuan apabila rilis data ekonomi menunjukkan inflasi kian melandai. Sikap tersebut membuat probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September merosot menjadi 48%, dari posisi 59% sebelum Waller menyampaikan pandangannya.
Di saat yang sama, mata uang regional mendapatkan sentimen positif dari penguatan signifikan yen Jepang. Yen melesat lebih dari 2% terhadap dolar AS ke posisi 155,47 yen/US$, mendekati level terkuatnya sejak awal Mei. Ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) sebesar 25 basis poin pada September telah menembus 75%, didukung pernyataan anggota Dewan Kebijakan BOJ Hajime Takata mengenai pentingnya menaikkan suku bunga lebih cepat guna mengantisipasi tekanan inflasi.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Menanti Rilis Data Tenaga Kerja AS
Arah pergerakan kurs selanjutnya bakal sangat dipengaruhi oleh rilis data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan meluncur pada Jumat malam. Kalangan ekonom memproyeksikan ekonomi Negeri Paman Sam berhasil menambah 56.000 lapangan kerja baru sepanjang Agustus, berbalik dari catatan Juli yang kehilangan 23.000 pekerjaan. Hasil data tenaga kerja ini akan menjadi acuan penting bagi pasar untuk mengukur arah kebijakan moneter AS dan dampaknya terhadap stabilitas rupiah pada pekan berikutnya.






