Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami tekanan tajam pada perdagangan sesi pertama Rabu (9/9/2026). Emiten perbankan swasta terbesar di Indonesia milik Grup Djarum tersebut ditutup merosot 150 poin atau 2,25% ke level Rp 6.525 per saham, setelah sempat menyentuh titik terendah sesi di level Rp 6.500 per saham.
Pelemahan signifikan ini menjadikan saham BBCA sebagai beban utama pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Penurunan harga saham BBCA memangkas hingga 14 poin dari indeks acuan pasar modal domestik tersebut.
Koreksi BBCA diiringi oleh lonjakan likuiditas transaksi dan aksi jual masif dari pelaku pasar global. Sepanjang sesi pertama, total nilai transaksi saham BBCA tercatat mencapai Rp 1,47 triliun, menjadikannya saham dengan perputaran dana paling besar di bursa pada hari tersebut. Pada saat yang sama, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) dengan nilai jumbo mencapai Rp 419,03 miliar.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Realisasi Dividen Interim dan Aksi Pasar
Penurunan tajam ini terjadi setelah periode cum date pembagian dividen interim kuartal III tahun buku 2026 berakhir pada 28 Agustus 2026. Berdasarkan keputusan korporasi, manajemen BBCA mengalokasikan total dana sebesar Rp 3,07 triliun atau Rp 25 per saham untuk dividen interim periode tersebut, yang dijadwalkan cair dan didistribusikan kepada para pemegang saham pada 16 September 2026.
Dividen ini merupakan kelanjutan dari skema pembagian laba yang sebelumnya telah dibahas direksi pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 12 Maret 2026. Dalam rencana tahun berjalan, Direksi dengan persetujuan Dewan Komisaris berpeluang mendistribusikan dividen interim hingga 3 kali per kuartal pada tahun buku 2026 dengan mempertimbangkan kondisi keuangan perseroan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Sebelumnya, termin pertama dividen interim untuk kuartal II tahun buku 2026 telah rampung dibayarkan perseroan kepada investor pada 26 Juni 2026.






