Operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal cepat (speed boat) yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau, masih menghadapi tantangan cuaca berat. Memasuki hari ketujuh pelaksanaan operasi, tim pencari belum berhasil mendeteksi keberadaan para korban maupun puing kapal.
Kepala Pos SAR Bakauheni Basarnas Lampung Rezie Kuswara menjelaskan bahwa faktor jarak pandang menjadi salah satu rintangan utama di lapangan. Kawasan perairan di sekitar lokasi saat ini tertutup kabut tebal yang membatasi penglihatan personel laut.
Cuaca Berkabut dan Ancaman Vulkanik
Kondisi berkabut tebal di perairan sekitar gunung api aktif tersebut membatasi jarak pandang tim penyelamat hingga tersisa sekitar satu mil laut. Selain visibilitas yang sangat terbatas, tim SAR gabungan dituntut untuk tetap waspada terhadap potensi bahaya dari dinamika vulkanik.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Operasi penyelamatan tetap memprioritaskan keselamatan seluruh personel SAR yang bertugas, mengingat wilayah pencarian berada langsung dalam zona yang terpengaruh oleh aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Berbagai armada dan unsur telah dikerahkan untuk menyisir area perairan, di antaranya armada RIB 02 Lampung, kapal KN SAR Basudewa, serta tim dari Pos SAR Tanggamus. Kendati demikian, seluruh penyisiran yang dilakukan hingga hari ketujuh masih memberikan hasil nihil.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Operasi SAR Resmi Diperpanjang
Menanggapi hasil evaluasi operasi pada hari ketujuh, otoritas pencarian dan pertolongan memutuskan untuk tidak menghentikan proses penyisiran. Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menyampaikan dalam konferensi pers di Pandeglang, Banten, bahwa operasi SAR resmi diperpanjang selama tiga hari ke depan.
Keputusan perpanjangan masa pencarian tersebut disepakati melalui rapat koordinasi Tim SAR Gabungan guna memaksimalkan pelacakan terhadap total delapan korban yang berada di kapal cepat tersebut. Koordinasi antarunsur di wilayah Banten dan Lampung terus diperkuat untuk memantau pergerakan arus dan kemungkinan lokasi korban di sekitar Selat Sunda.






