Satuan Tugas (Satgas) Edukasi Karhutla Peserta Pendidikan Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Serdik Sespimti) Polri Angkatan 36 menggelar kegiatan focus group discussion (FGD) di Kecamatan Samboja Barat, Kalimantan Timur. Forum diskusi terfokus ini diselenggarakan untuk memperkuat langkah pencegahan serta penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah setempat.
Kegiatan FGD tersebut melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan, mulai dari jajaran instansi pemerintah, aparat TNI-Polri, perwakilan sektor dunia usaha, akademisi, hingga tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat. Samboja Barat menjadi lokus pembahasan strategis karena wilayah ini tergolong memiliki tingkat kerentanan karhutla yang cukup tinggi ketika musim kemarau berlangsung.
Ketua Senat Serdik Sespimti Dikreg 36, Donny Alexander, menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak bisa dibebankan kepada satu instansi semata. Masalah kebakaran hutan dan lahan merupakan ancaman nyata yang membutuhkan kerja sama lintas sektor, mengingat dampaknya yang merugikan di berbagai sektor kehidupan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Menurut Donny, karhutla merupakan permasalahan serius yang menimbulkan dampak langsung terhadap kerusakan ekosistem lingkungan, penurunan kualitas kesehatan publik, hingga mengganggu keberlangsungan aktivitas perekonomian masyarakat di kawasan terdampak.
Melalui FGD tersebut, Satgas Edukasi Karhutla Sespimti Polri Angkatan 36 bersama para pemangku kepentingan merumuskan empat poin strategis yang menjadi fokus penanganan karhutla di Samboja Barat. Langkah-langkah tersebut mencakup pemetaan titik-titik rawan kebakaran, penguatan sistem deteksi dini, penyiapan patroli terpadu lintas instansi, serta penyampaian edukasi intensif mengenai bahaya tradisi membuka lahan dengan cara membakar.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Sebagai langkah keberlanjutan, Donny Alexander juga mengusulkan agar pemerintah daerah aktif menghimpun aspirasi dan masukan dari para pemangku kepentingan lokal. Langkah penghimpunan masukan tersebut diharapkan menjadi landasan yang kuat dalam menyusun dan menjalankan program edukasi penanggulangan karhutla secara berkelanjutan di wilayah Samboja Barat.






