Badan Pusat Statistik telah merilis data terbaru mengenai profil kemiskinan di Indonesia untuk periode Maret 2026. Laporan ini memberikan gambaran yang sangat penting mengenai peta sebaran kesejahteraan masyarakat di berbagai pulau besar di tanah air. Berdasarkan informasi resmi tersebut, jumlah penduduk miskin secara nasional mengalami penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan periode September 2025. Data spasial ini menjadi acuan krusial bagi para pengambil kebijakan serta pelaku ekonomi untuk memahami dinamika kesejahteraan di tiap daerah.
Berikut adalah rangkuman lengkap dalam format tanya jawab untuk memahami wilayah mana saja yang memiliki populasi penduduk miskin tertinggi hingga terendah di Indonesia saat ini.
Berapa jumlah total penduduk miskin di Indonesia menurut data terbaru?
Berdasarkan penjelasan dari Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M Edy Mahmud, total penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebanyak 22,93 juta orang. Angka ini setara dengan 8,07 persen dari total seluruh populasi penduduk di Indonesia. Jika dibandingkan dengan kondisi pada September 2025, jumlah penduduk dengan kategori miskin mengalami penurunan sebanyak 430 ribu orang secara nasional. Hal ini menunjukkan adanya tren perbaikan kesejahteraan secara umum di tingkat nasional dalam kurun waktu tersebut.
Pulau mana yang memiliki jumlah penduduk miskin paling banyak?
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Hingga saat ini, konsentrasi penduduk miskin terbesar di Indonesia masih berada di Pulau Jawa. Bahkan, lebih dari separuh dari seluruh penduduk miskin di tanah air terkonsentrasi di pulau ini. Secara rinci, jumlah penduduk miskin di Pulau Jawa mencapai angka 12,02 juta orang. Jumlah yang sangat besar ini setara dengan sekitar 52,42 persen dari total populasi miskin nasional. Tingginya angka kemiskinan di Jawa sangat dipengaruhi oleh konsentrasi jumlah penduduk Indonesia yang memang mayoritas mendiami wilayah tersebut.
Wilayah mana yang mencatatkan jumlah penduduk miskin paling sedikit?
Sebaliknya, Kalimantan mencatatkan diri sebagai wilayah dengan jumlah penduduk miskin paling rendah dibandingkan dengan pulau-pulau besar lainnya di Indonesia. Jumlah penduduk miskin di pulau Kalimantan tercatat berada di kisaran 870 ribu orang. Jika dipresentasikan terhadap skala nasional, jumlah penduduk miskin di Kalimantan hanya menyumbang sebesar 3,79 persen dari total seluruh penduduk miskin yang ada di Indonesia. Perbedaan angka yang kontras ini menunjukkan ketimpangan sebaran jumlah absolut penduduk miskin antar-pulau.
Bagaimana dengan rincian jumlah penduduk miskin di wilayah pulau lainnya?
Selain Pulau Jawa dan Kalimantan, Badan Pusat Statistik juga memaparkan data kemiskinan untuk wilayah kepulauan lainnya secara mendetail. Sumatera menempati posisi kedua dengan jumlah penduduk miskin mencapai 5 juta orang, atau setara dengan 21,81 persen dari total nasional. Di wilayah Bali dan Nusa Tenggara, jumlah penduduk miskin tercatat sebesar 1,83 juta orang atau sekitar 7,98 persen. Sementara itu, di Sulawesi terdapat 1,77 juta orang penduduk miskin yang setara dengan 7,12 persen. Untuk wilayah Maluku dan Papua, jumlah penduduk miskin tercatat sebesar 1,44 juta orang atau setara dengan 6,28 persen.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Bagaimana perkembangan tingkat kemiskinan di setiap wilayah dibandingkan periode sebelumnya?
Apabila dibandingkan dengan kondisi pada September 2025, perkembangan tingkat kemiskinan menunjukkan arah yang positif. Penurunan tingkat kemiskinan terpantau terjadi di semua wilayah di Indonesia tanpa terkecuali. Dari seluruh wilayah pulau besar yang ada, penurunan tingkat kemiskinan yang paling dalam terjadi di Pulau Jawa. Wilayah Jawa mencatatkan penurunan angka kemiskinan sebesar 0,21 persen dibandingkan dengan periode September 2025.
Apa saja keterbatasan atau ketidakpastian yang perlu diperhatikan dalam membaca data ini?
Meskipun data dari Badan Pusat Statistik menyajikan gambaran penurunan angka kemiskinan di seluruh penjuru negeri, pembaca harus memahami batasan metodologi yang ada. Angka kemiskinan ini diperoleh melalui survei berkala yang menangkap kondisi sosial ekonomi pada waktu tertentu, yaitu perbandingan antara September 2025 dan Maret 2026. Data makro ini menyajikan tren umum di tingkat wilayah, namun tidak mencerminkan fluktuasi pengeluaran riil harian atau perubahan kondisi ekonomi mikro yang terjadi setelah survei selesai dilakukan. Oleh karena itu, data ini sebaiknya digunakan sebagai indikator tren makro sektoral, bukan sebagai cerminan mutlak kondisi kesejahteraan individu secara real-time di lapangan.






