Tahun 1996 mencatatkan peristiwa bersejarah dalam peta industri ritel nasional ketika kepemilikan PT Matahari Department Store Tbk secara resmi beralih dari pendirinya ke tangan keluarga konglomerat melalui kelompok usaha Lippo Group. Sebelum transaksi besar tersebut terealisasi, Matahari telah mencatatkan perjalanan bisnis panjang dari sebuah toko pakaian kecil di ibu kota hingga berkembang menjadi raksasa ritel nasional. Dalam sejarah perkembangannya, jaringan ritel ini mampu tumbuh meluas hingga menjangkau 155 gerai yang tersebar di 81 kota di seluruh penjuru Indonesia.
Bagaimana sejarah awal mula berdirinya bisnis ritel Matahari di Indonesia?
Cikal bakal jaringan ritel Matahari bermula pada tahun 1960 dari sebuah toko pakaian bernama Micky Mouse yang didirikan oleh Hari Darmawan di kawasan Pasar Baru, Jakarta. Selama lima tahun pertama, bisnis toko Micky Mouse mencatatkan kinerja yang sangat baik karena berhasil membangun dan mengamankan segmen pasarnya sendiri. Dalam kegiatan operasionalnya, toko Micky Mouse menjual jajaran produk pakaian impor serta melengkapi koleksinya dengan merek pakaian buatan sendiri bernama MM Fashion, yang diproduksi secara langsung oleh istri Hari Darmawan.
Bagaimana proses akuisisi De Zion dan perubahan nama menjadi Matahari pada tahun 1968?
Keberhasilan pengelolaan toko Micky Mouse memperkuat dorongan ekspansi bisnis Hari Darmawan. Pada tahun 1968, keinginan untuk memperluas skala usaha diwujudkan melalui langkah akuisisi terhadap dua unit toko De Zion yang terletak di Jakarta dan Bogor. Langkah ekspansi tersebut berhasil direalisasikan berkat dukungan pembiayaan berupa dana pinjaman sebesar US$200 juta yang diperoleh dari Citibank. Begitu akuisisi diselesaikan, Hari Darmawan segera mengganti nama toko tersebut menjadi Matahari. Keputusan pemilihan nama ini didasari oleh fakta bahwa kata De Zion dalam bahasa Belanda memiliki arti matahari.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Strategi bisnis dan perluasan produk seperti apa yang diterapkan Matahari pada dekade 1970 hingga 1980-an?
Setelah melakukan pengubahan nama toko, Hari Darmawan merancang arah pengembangan bisnis Matahari dengan mengacu pada model operasional ritel asal Jepang, yaitu Sogo Department Store. Keinginan utamanya saat itu adalah membawa Matahari agar dapat beroperasi dan berkembang layaknya Sogo. Melalui strategi tersebut, bisnis Matahari berkembang sangat pesat sepanjang kurun waktu 1970 hingga 1980-an. Komoditas yang dijual di dalam gerai Matahari pun terus ditambah dan diperluas. Gerainya tidak lagi sekadar menjual beragam produk pakaian, tetapi juga menyediakan komoditas lain seperti perhiasan, tas, sepatu, kosmetik, peralatan elektronik, mainan anak, alat tulis kantor, hingga buku.
Kapan PT Matahari Department Store Tbk melantai di bursa saham dan apa ambisi pendirinya?
Seiring pesatnya pertumbuhan gerai dan operasional usaha, langkah strategis berikutnya diambil pada tahun 1989. PT Matahari Department Store Tbk secara resmi menjual sahamnya kepada publik di bursa efek dengan mendaftarkan kode emiten LPPF. Kehadiran perusahaan di bursa saham memperkuat posisi finansial dan reputasinya di pasar ritel nasional. Pasca penawaran saham publik tersebut, Hari Darmawan memiliki ambisi bisnis yang sangat besar, yaitu menargetkan ekspansi jaringan Matahari hingga mencapai 1.000 gerai di berbagai wilayah Tanah Air.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Bagaimana persaingan antara Matahari dan WalMart yang dihadirkan oleh James Riady?
Dinamika bisnis ritel Matahari semakin kompleks saat James Riady, seorang bankir muda sekaligus putra dari pendiri Lippo Group Mochtar Riady, masuk ke dalam lanskap persaingan. James Riady sempat menunjukkan niat untuk memberikan fasilitas dana pinjaman senilai Rp1,6 triliun kepada Hari Darmawan. Pada saat yang bersamaan, James Riady membawa merek ritel multinasional asal Amerika Serikat, WalMart, untuk beroperasi di pasar Indonesia. Salah satu langkah kompetisi yang mencolok adalah pembangunan gerai WalMart yang berlokasi persis di depan gerai Matahari. Meskipun berhadapan langsung dengan kekuatan ritel raksasa, Matahari berhasil memenangkan kompetisi tersebut, sementara WalMart kalah saing dan Matahari tetap kokoh berdiri sebagai raja ritel di Indonesia.
Bagaimana proses akhir pengambilalihan Matahari oleh Lippo Group pada tahun 1996?
Meskipun berhasil mempertahankan posisinya dari gempuran persaingan ritel asing, peta kepemilikan Matahari mengalami perubahan secara mendadak pada tahun 1996. Di saat Matahari berada pada puncak masa kejayaannya dengan membukukan nilai omzet mencapai Rp2 triliun, Hari Darmawan secara tiba-tiba mengambil keputusan untuk menerima tawaran pembelian unit bisnis Matahari yang diajukan oleh James Riady. Transaksi penjualan pada tahun 1996 tersebut secara resmi memindahkan seluruh kepemilikan dan kendali atas bisnis Matahari kepada Lippo Group, mengakhiri era pendiri awal dan memulai babak baru Matahari di bawah kendali konglomerasi.






