Aktivitas kegempaan di Gunung Anak Krakatau mencatatkan sembilan kali gempa vulkanik dalam dalam kurun waktu kurang dari tiga jam, tepatnya pada rentang pukul 12.00 hingga 14.42 WIB, Senin (7/9/2026). Selain itu, instrumen pemantauan juga merekam tujuh kali gempa vulkanik dangkal dan tujuh kali gempa hybrid pada periode pengamatan siang tersebut.
Ketua Tim Tanggap Darurat Gunung Anak Krakatau, M Nugraha Kartadinata, menjelaskan bahwa kemunculan gempa-gempa ini mengindikasikan adanya suplai magma yang bergerak menuju dapur magma lalu terlepas ke permukaan. Kendati demikian, frekuensi dan intensitas pelepasan material tersebut sudah tidak setinggi kondisi dua hari sebelumnya.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Secara keseluruhan, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini terpantau mulai melandai. Letusan terakhir tercatat terjadi pada Minggu (6/9) sekitar pukul 20.23 WIB dengan skala yang relatif lebih kecil dibandingkan erupsi menerus pada periode sebelumnya.
Terkait sebaran abu vulkanik, Nugraha menyebutkan jatuhan abu terjadi tidak merata di sekitar kawasan terdampak. Hal tersebut dipengaruhi oleh variasi arah serta kecepatan angin pada tiap lapisan ketinggian atmosfer.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Atas kondisi tersebut, warga diimbau untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Butiran abu vulkanik memiliki tekstur sangat halus dan tajam menyerupai pecahan kaca sehingga dapat membahayakan saluran pernapasan. Masyarakat dan wisatawan juga dilarang keras mendekati atau beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.






