Presiden Prabowo Subianto menegaskan tiga agenda utama saat mewakili Indonesia pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di New Delhi, India. Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa sikap resmi Indonesia tersebut berpusat pada penguatan kemandirian dan ketahanan nasional, persatuan negara-negara Global South, serta penguatan kerja sama BRICS dan reformasi tata kelola global.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam sesi pertemuan terbatas bertajuk "Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism".
Fondasi Kebutuhan Dasar dan Ketahanan Nasional
Pesan pertama yang ditekankan Presiden Prabowo menempatkan ketahanan domestik sebagai fondasi kedaulatan negara. Kekuatan sebuah bangsa dinilai berakar langsung pada kemampuannya dalam mencukupi kebutuhan paling mendasar warganya secara berdikari.
Seskab Teddy Indra Wijaya menerangkan bahwa pemenuhan tiga sektor kunci鈥攑angan, energi, dan pendidikan鈥攎enjadi syarat mutlak agar Indonesia memiliki daya tahan yang kokoh. Fondasi dalam negeri yang solid dinilai krusial agar posisi tawar Indonesia tetap mandiri dan tidak mudah didikte oleh kepentingan kekuatan tertentu di panggung internasional.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Semangat Asia-Afrika dan Solidaritas Global South
Pada poin kedua, Presiden Prabowo menyoroti pentingnya konsolidasi di antara negara-negara berkembang. Mengutip peribahasa 'Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh', Prabowo kembali mengingatkan nilai historis dan relevansi semangat Konferensi Asia-Afrika.
Melalui platform KTT BRICS, negara-negara Global South didorong untuk memposisikan diri secara setara di kancah global. Persatuan kawasan ini dipandang penting guna memastikan negara berkembang memiliki ruang yang adil dalam memperjuangkan kepentingan ekonomi, kedaulatan, dan masa depannya sendiri.
Realisasi Potensi BRICS dan Penguatan Multilateralisme
Pesan ketiga menyoroti skala demografis dan ekonomi BRICS yang kini mewakili separuh dari total populasi dunia. Menurut Prabowo, kekuatan agregat tersebut harus segera ditransformasikan ke dalam wujud kerja sama teknis dan ekonomi yang konkret.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Langkah nyata yang didorong mencakup penguatan rantai pasok pangan dan energi, perluasan konektivitas pasar, integrasi modal, alih teknologi, pengelolaan sumber daya, serta pertukaran pengetahuan. Inisiatif ini ditujukan untuk membuka peluang pembangunan yang lebih inklusif dan luas bagi seluruh negara berkembang.
Di tingkat institusional dunia, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus tetap menjadi poros utama sistem multilateral. Namun, struktur dan mekanisme PBB dinilai mendesak untuk diperkuat agar lebih representatif, responsif, serta mampu menghasilkan solusi konkret bagi persoalan global. Keikutsertaan aktif Indonesia di BRICS diarahkan untuk terus mendorong tatanan internasional yang lebih adil, setara, dan damai.






